
Dewasa ini Ummat Islam telah dihadapkan dengan banyak sekali
tantanggan dan Ujian, jalan untuk mencari kebenaran yang hakiki semakin
tersamarkan, antara yang Haq dan yang Bathil mulai bias. Proses perapuhan
nilai-nilai islam itu tidak hanya datang dari mereka yang jelas-jelas membenci
Islam, namun juga dari umat Islam sendiri. Sehingga diperlukan pemahaman Islam
yang Syumul/Utuh pada setiap masyarakat.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya,…” (QS. An Nisa’ 4: 58)
Tak ada jalan lain kecuali membali mengangkat kaki kita
untuk bergerak dalam dakwah Islam. . Inilah jalan yang telah ditempuh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan Rasul-Rasul sebelumnya, juga para
shiddiqin, syuhada dan shalihin, sebagaimana wasiat Allah swt kepada Rasul-Nya:
"Dan inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan
janganlah engkau ikuti jalan-jalan lain, karena itu semua akan menyesatkanmu
dari jalan-Nya. Itulah yang telah diwasiatkan kepadamu agar kamu
bertaqwa." (QS. Al-An'am:153)
Tujuan da'wah Islam adalah li i'laa-i kalimatillah, untuk
menegakkan syari'at Allah di muka bumi ini. Yaitu tegaknya suatu system
kehidupan yang mengarahkan manusia pada suatu prosesi penghambaan hanya kepada
Allah saja. Apabila syari'at Allah belum tegak, maka beragam prosesi
penghambaan kepada selain Allah akan marak dan terus tumbuh subur.
Di atas jalan inilah Rasulullah beserta pengikut-pengikutnya
melangkah, walaupun jalan tersebut berliku, terjal, penuh onak duri bahkan
binatang-binatang buas yang siap menerkam. Beliau dan pengikutnya tidak akan
berhenti hingga tidak ada lagi fitnah dan sistem Allah (Dienullah) tegak di
muka bumi ini secara total.
Dakwah hanya akan berhasil jika diletakkan pada pundak orang
yang pantang menyerah, jiwa yang kokoh serta Aqidah yang lurus. Para penggerak
dakwahi sering kali datang dan pergi silih berganti namun dengan atau tanpa
kita Dakwah akan tetap berjalan. Yang harus kita lakukan adalah menjadi bagian
dari Gerakan dakwah itu.
Sekecil apapun peran dan amanah dalam dakwah, itu jauh lebih
Allah cintai dari pada tidak sama sekali. Ketika menjelaskan beberapa sifat
orang-orang yang beriman, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan bahwa di antara
sifat mereka adalah menjaga amanah dakwah yang dibebankan di atas pundak
mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
وَالَّذِينَ
لأََمنتهِم وَعَهْدِهِم راَعُونDan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang
dipikulnya) dan janjinya. [Al Mukminun:8]
Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta'ala menjanjikan balasan
bagi mereka seraya berfirman:
ءولئك هُمُ الوَارِثُون الَّذِين
يَرِثُونَ الفِرْدَوسَ هُم فِيهَا خَالِدُونَMereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yakni yang
akan mewarisi jannah Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. [Al Mukminuun: 10-11]
Mari kita berkaca pada para sahabat dan ulama besar
terdahulu dalam memperjuangkan aqidah dan Islam yang syumuul.
Apa sebabnya Imam Abu Hanifah dipenjara?
Apa sebabnya Imam Malik dipukuli sampai cacat tangannya?
Apa sebabnya Imam Syafii diseret ke hadapan majelis
khalifah?
Apa sebabnya Imam Ahmad dipenjara? Apa sebabnya Imam Sufyan
Ats Tsawri harus lari bersembunyi dari penguasa sampai akhir hayatnya?
Jawabannya Cuma satu, karena mereka tidak mau kompromi dalam
mencari kebenaran Islam, segala hukum harus jelas Sumber dan Asalnya. Mereka
tidak takut apapun selain Allah, seolah dihadapan mereka terpampang hamparan
Syurga dengan Segala kenikmatannya.
Sikap tegas dan kuat dalam memperjuangkan kebenaran dakwah
pada jiwa para pengemban dakwah sekarang seolah membias. Hal ini banyak terjadi
karena menularnya virus tamayyu’ (pencairan) ke pemikiran para da’i yakni
kondisi dimana seorang pengemban dakwah lebih terpengaruh gaya, ideologi dan
pemikiran objek dakwahnya, lalu lambat laun mulai meninggalkan Idealisme yang
dianutnya. Na’uzubillah min dzalik.
Tamayyu’ ini pertama muncul dalam segi akhlak dimana seorang
da’I menggampangkan atau menyepelekan suatu pelangggaran, mencari pembenaran
atas pelanggaran tsb. Niat awalnya mungkin baik, agar sasaran dakwah tidak
merasa bahwa Islam itu sulit. Namun, jika hal ini tidak ditegaskan justru
sasaran dakwah akan terbiasa dengan hal itu dan menjadikannya sebagai fatwa.
Jika tamayyu’ ini tidak diobati maka akan mulai merember ke ‘Ubudiyah, dimana
para da’I mulai meninggalkan amalan-amalan Sunnah, mulai tidak memasang hijab
antara ikhwan dan akhwat, dsb. Setelah itu muncullah pencairan idoelogi, pemahaman
terhadap fikrah Islam mulai melemah, hingga akhirnya dalil-dalil yang dipakai
bukan lagi dari Al Qur’an dan Sunnah.
Ketegasan dalam dakwah dan mempertahankan ideologi Islam
harus ditanamkan sejak pertama kita mengucapkan “Siap” untuk mengemban amanah
dakwah. Sejak pertama kita menerima amanah dakwah, maka saat itu kita sudah
siap untuk dinisbatkan sebagai Pendakwah dan sejak saat itu pulalah kita harus
tentukan Ideologi mana yang akan kita pegang erat-erat.
Tak bisa dipungkiri bahwa seorang dai juga manusia, karena
itu dibutuhkan imunitas untuk menjaga konsistensi Ideologi. Imunitasnya adalah
senantiasa meningkatkan kualitas diri dan berkumpul dengan para Pejuang Allah
lainnya.
Wallahu’alam bi showab.