Selasa, 25 November 2014

Fiqh Dakwah Mustafa Mansyur (Prinsip dan Penyimpangan Dakwah


BAB I. JALAN DAKWAH

Sebagai pendahuluan bab ini, penulis memberikan penjelasan umum terkait dengan jalan dakwah. Tugas terbesar umat Islam ialah memimpin dunia, mengajar seluruh kemanusian kepada sistem Islam, membimbing cara hidup Islam, membimbing kepada ajaran yang baik, karena tanpa Islam, manusia tidak mungkin bahagia. Dimana tugas tersebut bukan tugas yang juz’iah, sampingan atau sebagian-sebagian serta bukan hanya mencapai tujuan-tujuan terbatas dalam aspek, tempat, daerah, bangsa, atau tanah air tertentu. Akan tetapi tugas ini merupakan satu tugas agung yang meliputi segenap sisi kehidupan demi kebaikan seluruh manusia bahkan untuk seluruh makhluk Allah. Karena Rasulullah diutus untuk membawa rahmat ke seluruh alam.
Tabiat jalan dakwah (seperti yang tercantum di dalam surat al-ankabut: 1-3) tidaklah mudah tetapi merupakan jalan yang sukar dan panjang. Dalam dakwah memerlukan kesabaran, ketekunan memikul beban berat, kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharap hasil yang segera, tanpa putus asa dan putus harapan. Dengan kata lain berusaha dengan sebaik mungkin dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Diingatkan pula bahwa selalu ada balasan baik bagi yang beriman dan bertakwa kepada ALLAH.
Ada tiga wasilah dan kebijaksanaan umum dalam dakwah, yaitu:
1. Iman yang mendalam (Iman Amiq)
2. Pembentukan yang rapi (Takwin Daqiq)
3. Usaha dan Amal yang berkesinambungan (Amal Mutawasil)
Ada tiga pula untuk tahapan dakwahnya yaitu:
1. Tahap penerangan (ta’rif) atau tahap propaganda
Dimana merupakan langkah pertama suatu perjalanan dakwah. Kesuksesan dan keselamatan tahap inilah yang menentukan dan akan mempengaruhi tahap-tahap selanjutnya. Dalam tahap ini diharuskan seorang muslim (aktivis dakwah) memahami islam dengan pemahama yang murni dan benar. Serta harus kembali kepada pedoman kita yang selalu dijaga oleh Allah SWT yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Dalam tahap ini juga para aktivis dakwah harus paham bahwa ketika menyampaikan dakwah dan peringatan harus mengemukakan keuniversalan islam dengan lengkap, utuh, total tanpa memisahkan antara satu bagian dan bagian lain atau bahkan menghapus satu bagian dari keseluruhan. Untuk mewujudkan cita-cita dalam memperkenalkan dan mengembangkan dakwah, seorang da’i harus memiliki sifat-sifat asasi dan harus berpegang pada uslub atau cara yang baik dan benar dalam pelaksanaan dakwahnya. Salah satunya yaitu harus menjadi contoh, teladan, dan model yang baik bagi Islam yang didakwahkan. Harus melaksanakan semua rukun Islam, mengikuti Sunnah dan cara hidup Rasulullah saw., menjauhi yang syubhat dan yang meragukan dan menjauhi segala yang haram. Serta senantiasa mengingat Allah dalam persolan kecil ataupun besar. Intinya adalah, seorang da’i harus mempunyai niat yang ikhlas dan kebulatan tekad semata-mata karena Allah dan dakwah Allah. Da’i juga dituntut punya pengetahuan luas, mengikuti perkembangan dan situasi, dan mengetahui berbagai aliran pemikiran dan ideologi modern.
2. Tahap pembinaan dan pembentukan (takwin)
Tahap ini harus mengikuti tahap sebelumnya agar tahap penerangan dan pengenalan ide dakwah tidak menjadi sia-sia dan tidak hilang tanpa bekas. Sebelum masuk ke tahap ini, para da’i harus mempersiapkan dirinya dengan melakukan perubahan yang menuju pada segala sesuatu yang Islami mulai dari dirinya sendiri. Ada ungkapan indah dari Hasan Al-Hudhaibi mengenai masalah ini, yaitu:
“Tegakkan daulah Islamiyah di dalam hatimu, agar ia tegak diatas bumimu”
Tujuan dari tahap ini adalah agar Islam mempunyai kader dakwah yang Islami. Islam tidak butuh banyak kader dakwah tapi tak ada satupun yang mempunyai karakter Islami. Yang dibutuhkan adalah muslim yang selamat aqidahnya, benar ibadahnya, teguh akhlaknya, pikirannya terdidik, badannya kuat, memiliki usaha yang mampu berdikari, ikhlas berqurban untuk diri sendiri dan orang lain, sanggup memerangi hawa nafsu, disiplin dalam segala urusannya dan memiliki nilai-nilai asasi bagi seorang da’i dan pendukung dakwah. Dalam tahap ini para kader dakwah dipersiapkan untuk bertempur menuju medan dakwah serta digembleng agar siap berjihad atas namaNya.
3. Tahap pelaksanaan (Tanfidz)
Tahap ini adalah tahap terakhir yang mana mempunyai tantangan lebih berat. Kesabaran, keilmuan, dan segala keahlian da’i yang telah digembleng sebelumnya akan di uji pada tahap ini.
Penyelewengan dakwah yang harus dihindari:
- Fitnah Ilmu: dapat menyebabkan dikeluarnya hukum baru yang sama sekali tidak ada di al-qur’an dan al-Hadits.
- Furu’iyah dan ushul: selalu memperdebatkan masalah tersebut dari bentuk lahiriahnya tanpa melihat dan mengurus isi/pokok (inti). Karena sebelum menyuruh seseorang yang diseur dengan hal-hal yang bersifat furu’iyah (cabang), terlebih dahulu bersama mereka harus mengukuhkan dan menegakkan masalah ushul (pokok) atau dasar aqidah Islam dalam diri kita.
- Keras dan Keterlaluan: para da’i harus waspada untuk tidak terlalu keras dan sangat keterlaluan dalam membebankan dirinya dengan melakukan tugas-tugas taat dan ibadah yang diluar kemampuannya. Juru dakwah harus dapat membedakan antara tindakan yang tegas penuh kesungguhan, dengan keterlaluan serta membebani diri di luar kemampuan. Amal yang sedikit tetapi kontinu itu lebih baik dari pada amal yang banyak tetapi terputus dan terhenti di tengah jalan.
- Sikap terburu-buru dan Kelonggaran: Sikap terburu-buru berbahaya karena mengakibatkan tindakan tanpa perencanaan yang matang. Selanjutnya, hal ini akan mengakibatkan tidak tercapainya tujuan yang dicita-citakan, bahkan dapat merusak dan membahayakan harakah Islam.
- Antara Politik dan Pendidikan: Dalam dakwah tidak boleh memandang enteng peranan tarbiyah (pendidikan) pembentukan dan perlunya beriltizam dengan ajaran Islam dalam membentuk asas dan dasar yang teguh. Dalam dakwah juga tidak boleh terburu-buru mempergunakan cara dan uslub politik menurut syarat dan cara partai-partai politik karena dengan begitu kita akan mudah terpedaya dengan kuantitas anggota yang diambil dan dianggap menguntungkan tanpa mewujudkan iltizam tarbiyah.
- Antara Dakwah dan Pribadi Manusia: karena Juru dakwah adalah manusia yang kadang kala benar dan kadang kala salah serta kadangkala berbeda pendapat. Tetapi diharapkan para da’i dapat mengkondisikan diri. Sehingga perbedaan pendapat tidak menjadikan para da’i merasa paling benar dan menjadi ahli debat dengan mengatas namakan dakwah. Hal ini akan menghancurkan segala usaha kita disebabkan waktu yang terbuang percuma untuk perdebatan, perpecahan, dan usaha untuk membuat perdamaian yang terus saja berulang jika muncul masalah baru.
Yang ada di sekitar penyelewengan:
- Kontradiksi dan Kesulitan: Seorang da’i harus terampil dalam mengamati lingkungannya. Karena banyaknya kondisi yang kontradiksi di masyarakat kita. Yang mana adanya masyarakat dihadapkan pada kehidupan yang penuh kemaksiatan dan kehidupan yang Islami yang bebas dari kemaksiatan. Jika tidak ada yang memberi petunjuk dan bimbingan terhadap jalan fikiran dikhawatirkan masyarakat akan memilih kehidupan yang penuh kemaksiatan daripada kehidupan yang bebas dari kemaksiatan.
- Siapa yang bertanggung jawab bila penyelewengan terjadi? Jawabannya adalah jamaah. Karena seharusnya jamaah inilah yang mengarahkan, menunjukkan dan membimbing mereka berjalan di jalan dakwah sesuai dengan perjalan Rasulullah saw. Dan terus diterapkan sampai ajal tiba.
- Syumul dan Pandangan Jauh: Bekerja untuk Islam harus mempunyai pandangan yang syumul (menyeluruh) dan mendalam serta berpandangan jauh. Karena jalan dakwah ini butuh strategi yang sudah diperhitungkan sebelumnya resiko apa yang akan diambil. karena berdasarkan pengalaman, semangat yang meluap-luap bukanlah bukti kekuatan iman, malah menunjukkan kedangkalan jiwanya dan kurangnya kesiapan serta tidak bersabar menghadapi penderitaan. Ingatlah bahwa permasalahan dakwah ini menginginkan perubahan menuju tegaknya Daulah Islamiyah ‘Alamiyah (Negara Islam sejagat) dan untuk seluruh manusia. Maka diperlukan pandangan yang syumul, perhatian, dan perhitungan sewajarnya.
- Jalan yang benar: Untuk mencapai tujuan yang telah dicita-citakan, agar yang bathil itu diubah dan daulah yang haq ditegakkan, bagaimanapun harus dilakukan dengan jalan yang benar dan tepat yaitu, dengan menanam dasar aqidah secarah kokoh di dalam jiwa, mendidik da mempersiapkan generasi mukmin yang benar dan mampu mambangun suatu perubahan, membangun rumah tangga muslim yang menampilkan Islam di segenap kegiatan dan aspek hidupnya, bekerja dan berusaha sungguh-sungguh memenangkan pendapat umum, agar mereka memihak dakwah Islam.
- Merubah Realitas dan Menghapus Kemungkaran: hal ini memang merupakan tujuan dakwah. Tapi sekali lagi, para da’i harus memperhatikan bahwa merubah realitas dan menghapus kemungkaran bukanlah dilakukan dengan tindakan serta merta dan memerangi secara langsung atau memasuki medan pertentangan. Teladan yang diberikan oleh Rasulullah pada penduduk Mekah patut dijadikan contoh. Beliau tidak langsung memerangi penduduk Mekah yang menyembah berhala. Tetapi menunggu waktu yang tepat dan masa yang tepat untuk menghancurkan berhala-berhala tersebut.
- Kesabaran, Ketahanan dan penyampaian dakwah: Tiga unsur ini sangat penting di peringkat pertama dakwah yaitu sabar, tetap bertahan (istiqomah), dan menyampaikan dakwah dengan tekun.
- Jihad dan Menjual diri untuk Allah. Kesadaran inilah yang harus dimiliki seorang da’i untuk mensukseskan jalan dakwah ini.
Bagaimanapun, penyelewengan fikrah (pemikiran) lebih berbahaya dari pada penyelewengan harakiah (gerakan).
Rintangan atau Halangan Dakwah:
a. Manusia berpaling dari dakwah: Bagaimanapun seorang da’i memang harus memiliki sifat sabar dan selalu sabar. Jangan berkecil hati untuk sambutan pertama dari target dakwah kita. Sebagaimana Allah berfirman: “Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan” (Al-Maidah:99) selebihnya serahkan pada Allah. Karena Allah-lah yang menentukan siapa yang pantas untuk mendapatkan hidayah-Nya. Dan jangan pula bernggapan bahwa sambutan mereka yang pertama terhadap dakwah telah mencukupi dan memadai untuk meneruskan dan mengekalkan kesadaran mereka terhadap tugas mereka kepada Allah dan Islam. Mereka harus tetap diperhatikan. Karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Sehingga dengan terusnya mengingatkan akan memperkokoh jalan dakwah ini.
b. Olok-olok dan Ejekan: marah ketika diejek atau diolok-olok adalah manusiawi. Tetappi di sini, seorang da’i dituntut untuk melatih diri supaya menerima segala gangguan, olok-olok dan penghinaan dengan kesabaran dan doa untuk target dakwah kita agar diberi hidayah, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Hal ini sesuai dengan janji Allah dalam surat Fushilat ayat 33. Dan jadilah seperti apa yang dikatakan imam Hasan al-Banna: “Jadilah kamu manusia yang seperti pohon buah-buahan, apabila dilempar dengan batu, pohon itu bahkan melempari manusia dengan buah-buahannya”.
c. Penyiksaan: ingatlah firman Allah Surat Al-baqarah ayat 214. Penyiksaaan ini merupakan ujian da’i dalam menyampaikan kebenaran dan itu merupakan Sunnatullah. Itulah mengapa diharuskan bagi para da’i untuk memperkuat tekadnya, mengukuhkan kemauan sejak bermulanya langkah pertama di atas dakwah.
d. Kelaparan dan Kesenangan setelah Kesusahan
e. Jabatan dan alat mencari Rezeki
f. Istri dan Anak: oleh karena itu seorang Da’i harus selektif dalam memilih Istri. Carilah Istri yang solihah yang mana nantinya akan menjadi menyokong untuk kesuksesan dakwah ini dan mendidik anak-anak menjadi anak-anak yang akan meneruskan perjuangan. Bukannya menjadi halangan dalam kesuksesan dakwah.
g. Mabuk dunia dan Harta
h. Suara penghalang yang melemahkan: maksudnya suara dari lingkungan sekitar. Yang mana dapat berupa saran, ajakan, ajaran-ajaran, dan ancaman dari mereka yang lemah kemauan dan dangkal cita-citanya meneruskan perjalan dakwah karena mementingkan kesenangan di dunia yang semu. Atau, ancaman tersebut datangnya dari musuh-musuh Allah. Untuk menguatkan lihat firman Allah pada surat Ali Imran: 172-175, Ali Imran ayat 139, An-nisa ayat 104, dan Ali Imran ayat 146. Dan juga kata-kata mutiara dari Imam Hasan Al-Banna sehubungan dengan masalah ini adalah: “Kekuatan yang paling bagus apabila ia berada dalam kebenaran, dan kelemahan yang paling buruk kalau ia berada di hadapan kebathilan”
i. Kekerasan Hati karena lama tidak Aktif: untuk menjaga diri dari rintangan ini, pendukung dakwah harus memelihara dirinya supaya tidak terasing dari saudara-saudaranya, supaya senatiasa berada di dalam amal danusaha dakwah, tolong menolong di dalam kebaikan, wasiat-mewasiati tentang kebenaran dengan kesabaran.
j. Waspada sepanjang masa terhadap rintangan apapun yang akan melanda dan senantiasa berlindung kepada Allah (Al-A’raaf:200)
Perbaiki dirimu dan seru Orang lain:
a. Ibadah yang benar
b. Akhlak yang Kuat
c. Wawasan berfikir (tsaqafatul fikri)
Tiga aspek dasar tsaqafatul fikri:
1. Memahami Islam secara betul dan menyeluruh
2. Mengetahui persoalan-persoalan yang patut diketahui oleh orang-orang yang aktif dalam gerakan Islam.
3. Memantapkan spesialisasi ilmu yang dimiliki.
d. Kesehatan Jasmani
e. Aspek penting lainnya:
- Berjihad untuk dirinya
- Berguna kepada manusia
- Menjaga waktunya
- Disiplin dalam segala urusannya
- Mampu bekerja untuk memenuhi keperluan hidupnya.
Cara mewujudkan perbaikan:
- Adanya pelaksana program yang sesuai dengan Risalah Ta’alim Hasan al-Banna
- Mengamalkan wirid
- Muhasabah setiap hari
Tujuan memperbaiki diri adalah melahirkan kader-kader aqidah yang ideal. Sedangkan Tujuan menyeru orang lain adalah untuk memperbanyak golongan mukminin yang benar, yang satu sama lainnya saling berkasih saying, yang memiliki dasar keimanan yang kokoh.
Tegakkan Keluarga Muslim
- Memilih calon Pasangan: Rasulullah bersabda:”Wanita itu dinikahi karena empat unsur: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dank arena agamanya. Maka kamu hendaknya memilih wanita yang beragama, agar kamu berbahagia”
- Beriltizam dengan ketentuan Islam
- Kebahagiaan Keluarga yang dicita-citakan: Allah telah berfirman: “dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya di antara kamu rasa kasih sayang” (Ar-Rum:21)
- Perkawinan itu Ibadah
- Perkawinan itu saling percaya mempercayai
- Perkawinan adalah sebuah syarikat yang dipimpin suami
- Perkawinan adalah tanggung jawab dan amanah
- Rumah tangga Muslim merupakan Risalah
- Rumah tangga muslim sebagai pusat pancaran cahaya
Marilah bersaudara
- Binalah persaudaraan karena Allah
- Saling ingat mengingatkan antara kita
- Galakkanlah Mekanisme saling mewasiati
- Hendaknya tetap dalam jalan dakwah

BAB II. PRINSIP DAN PENYIMPANGAN GERAKAN ISLAM

Bentuk-bentuk penyimpangan dakwah:
1. Penyimpangan Tujuan (ghoyah): Dakwah yang bertujuan selain Allah.
Hal ini dipengaruhi oleh:
- Penyakit Hati: Riya’, ghurur (lupa diri), sombong, ego-centris dan gila popularitas
- Tidak memahami urgensi keikhlasan: masalah keikhlasan ini banyak tercantum di dalam al-qur’an. Az-zumar:11-12, Az-zumar:14, Al-Bayyinah ayat:5, Al-An’am:162-163
2. Penyimpangan dari Sasaran Utama (ahdaf): kepada sasaran yang sifatnya juz’iyah (sektoral). Imam Hasan al- Banna menjelaskan bahwa sasaran dakwah yang dituju adalah menegakkan agama Allah dibumi dengan mendirikan Daulah Islamiyah dan mengembalikan khilafah: termasuk menyampaikan Islam kepada seluruh manusia.
Bentuk-bentuk penyimpangan:
- Pemisahan sasaran
- Pembatasan Negara
- Hanya untuk kekuasaan
- Pembatasan Islam yang Parsial
3. Persoalan jama’ah dan Komitmen (Iltizam):
- Meremehkan amal jama’i
- Banyaknya jama’ah dan pemimpin
- Friksi-friksi dalam jama’ah
- Bergantung pada individu yang lebih kuat
- Menimbulkan perselisihan
- Keluar dari jama’ah
- Tidak memenuhi arkan bai’ah
- Perasaan lebih tinggi
4. Persoalan Pemahaman (fahm):
- Mengadopsi pemikiran yang jelas-jelas bertentangan dengan pemahaman yang benar tentang Islam, Al-Qur’an, Sunnah Nabinya.
- Berupaya untuk mengebiri nilai as Sunnah-Nabawiyah, yaitu menggunakan al-qur’an saja, memenangkan pandangan rasional atas hadits shahih, upaya menyeret Islam untuk kepentingan penguasa dengan dalih pengembangan dan pembaharuan.
- Berupaya memaksakan semua anggota jama’ah untuk mengikuti suatu pendapat dalam masalah furu’ yang mempunyai beberapa pendapat.
- Membesarkan masalah juz’iyah dan far’iyah dengan mengorbankan masalah kulliyat (prinsip)
- Pengebirian Islam dalam pelaksanaannya padahal kita diwajibkan menyuguhkan Islam secara kamil (utuh)
5. Persoalan langkah (khiththah) operasional dan sasarannya sesuai dengan tuntunan Rasulullah dalam berdakwah. Namun, ada beberapa penyimpangan yang mungkin terjadi dalam langkah operasional, yaitu:
- Mengikuti Pola partai Politik : mengutamakan kuantitas bukan kualitas
- Tidak memperhatikan factor tarbiyah (pembinaan)
- Mengabaikan unsur persatuan dan potensi jalinan antar individu: “Dan janganlah kamu bertikai, karena dengan sebab itu kamu akan gagal dan kehilangan kekuatan” (Al-Anfal:46)
- Mengabaikan pemeliharaan potensi struktur jama’ah dan komitmen keanggotaan
- Penyimpangan-penyimpangan yang berkaitan dengan masalah jihad dan persiapannya
- Faham kedaerahan
- Menerima prinsip dan ideology sekuler
- Mendorong jama’ah untuk didominasi orang lain
- Berpartisipasi dalam pemerintahan yang tidak menjalankan hukum Allah
- Berkoalisi bersama musuh dengan mengorbankan prinsip dan tujuan
- Mengabaikan prinsip syura (musyawarah) dan nasihat
- Mementingkan formalitas, bukan esensinya serta mengutamakan perdebatan dan diskusi daripada kerja
- Reaksioner tanpa perencanaan
- Mengarah kepada pertarungan sampingan dan persoalan Far’iyah
- Memisahkan diri dari masyarakat
Sekitar ujian dan cobaan
- Ujian merupakan sunnah dakwah: Al-Baqarah: 214,155, Al-Ankabut:1-3, Ali Imran: 179, Al-An’am:34, Muhammad 31
- Kesalahan dalam memandang ujian:
a. Anggapan bahwa ujian bukan hal yang wajar terjadi di atas jalan Dakwah.
b. Pemahaman yang salah ketika ujian telah mengguncangnya
c. Beranggapan bahwa ujian dapat dihindari dengan sedikit bertindak bijaksana dan taksis (diplomasi dengan musuh)
d. Berlindung dan mendukung orang-orang zhalim serta menyatakan keluar dari jama’ah dan menyerangnya karena ingin menghindari ancaman pemenjaraan dan penyiksaan
e. Tidak ada keteguhan dan kekuatan dalam menanggung derita
f. Pada sebagian orang yang menduduki jabatan penting, menuduh jeleknya seleksi dari pihak pimpinan
g. Tidak mengambil hikmah Allah dan penempaan serta seleksi yang terkandung dalam ujian
h. Tidak memaklumi orang yang tidak tahan menanggung kerasnya siksaan dan orang yang lemah
i. Terlalu berlebihan untuk menghentikan gangguan dan penyiksaan terhadap sesama anggota dengan bentuk apa saja.
j. Menganggap ujian sebagai pukulan keras yang mematikan atau melumpuhkan
k. Menghentikan dakwah agar tidak mendapa siksaan baru
l. Mempersempit aktivitas dakwah yang menyinggung musuh atau penguasa
m. Menjangkitnya penyakit keputusasaan dengan sebab ujian
“Sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman bersamanya: ‘bilakah datangnya pertolongan Allah?’Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (Al-baqarah: 214)
- Faktor-faktor keberhasilan yang dapat menundukkan rintangan:
a. Kekuatan dakwah kita: Al-baqarah:138
b. Keperluan dunia terhadap dakwah kita
c. Kemuliaaan tujuan kita
d. Dukungan Allah kepada kita
“Dan Allah berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Yusuf: 21)
Sikap menghadapi Musuh dan Kekuatannya
- Kesalahan dalam memandang musuh:
a. Membesar-besarkan kekuatan Musuh: Al-Fath:4, Muhammad: 4, 35 Al-Anfal 12,17
b. Terlalu meremehkan kekuatan musuh
c. Buruknya system pemilihan pimpinan militer
d. Berkelompok dan saling berkhianat di kalangan pimpinan: al- Anfal: 45-46, As-Shah: 4
e. Spontanitas
f. Mengikutsertakan orang-orang yang lemah iman dan munafiq: At-Taubah: 47-48
g. Bangga dengan mayoritas: At-Taubah: 25-26, Ali Imran: 126
h. Merasa berat ke dunia dan tidak menyambut panggilan jihad: At-Taubah 38-39
i. Mundur dari medan pertempuran: Al-Anfal: 15-16
j. Merasa sombong dan congkak pada saat kemenangan
k. Jatuh mental dan semangat pada saat terjadi serangan: ali Imran 139-141, 171-175

BAB III. IKHWANUL MUSLIMIN MENJAWAB GUGATAN

Persoalan Pertama
- Islam Agama Jama’ah... Agama Akhirat dan dunia
- Menegakkan Negara Islam yang memberikan kekuasaan pada Dien Allah.
- Asy-Syahid Hasan Al- Banna Menggariskan jalan dakwah sesuai sirah Rasulullah dalam menghadapi realitas serta agar kita beramal jama’i
Persoalan Kedua
- Sifat-sifat Jama’ah:
a. Pertama, jama’ah harus mengembalikan seluruh manusia, terutama para Aktivis Islam kepada pemahaman yang bersih, menyeluruh dan benar tentang Islam
b. Kedua, jama’ah yang berusaha mewujudkan tuntutan-tuntutan dan semua kewajiban Islam harus mempunyai program menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyah dan kekuasaan Allah di muka bumi
c. Ketiga, jama’ah harus menempuh metode (manhaj) yang benar dalam mewujudkan kewajiban dakwah yaitu: mempersiapkan kekuatan aqidah, kekuatan persaudaraan, kemudian kekuatan senjata
d. Keempat, jama’ah ini harus sedapat mungkin bias bekerja di seluruh penjuru dunia Islam
e. Kelima, memilih jama’ah yang lebih memiliki pengalaman di jalan dakwah agar tidak terjadi pemborosan waktu, potensi dan nyawa.
- Jama’ah Ikhwanul Muslimin memenuhi persyaratan
- Jama’ah Ikwan secara keseluruhan menempuh jalan yang benar
Persoalan Ketiga
- Ikwanul Muslimin dan garis perjuangan Imam al-Banna yang mana adanya pemahaman, salah satu dari “dua puluh prinsip”, tidak adanya perdebatan panjang masalah perbedaan fiqhiah, sasaran Ikhwanul Muslimin yaitu:
Pertama, membebaskan negeri Islam dari semua kekuatan asing
Kedua, menegakkan, dinegeri yang merdeka ini, suatu Negara Islam yang akan memberlakukan hukum-hukun Islam, menerapkan system sosialnya, mengumumkan prinsip-prinsipnya yang lurus, dan menyampaikan dakwahnya yang arif kepada semua manusia
dan tujuan Ikhwanul Muslimin pada hakekatnya mencari Ridha Allah.
- Sarana-sarana umum yang dipergunakan dalam gerakan dakwah ikhwanul muslimin, yaitu:
a. Iman yang mendalam (Iman Amiq)
b. Pembentukan yang rapi (Takwin Daqiq)
c. Usaha dan Amal yang berkesinambungan (Amal Mutawasil)
- Tahapan gerakan dakwah Ikwanul Muslimin, yaitu:
a. Ta’rif (pengenalan)
b. Takwin (pembentukan)
c. Tanfidz (pelaksanaan)
- Arkan al-Bai’at Hasan al-Banna agar terpelihara dari perubahan dan penyimpangan, yaitu:
a. Membentuk pribadi Muslim
b. Membentuk Rumah tangga Muslim
c. Membentuk masyarakat Muslim
d. Membebaskan Negara Islam dari semua kekuasaan Asing
e. Menegakkan Negara Islam
f. Mengembalikan eksistensi umat Islam secara Internasional sehingga tercapainya Khilafah Islamiyah
g. Akhirnya Memimpin dunia melalui penyebaran dakwah Islam ke segenap penjuru dunia
Persoalan Keempat
- Sampai sekarang Belum Tegaknya Negara Islam. Hal ini dikarenakan yang ingin dicapai Ikhwanul Muslimin yaitu Negara universal bukan Negara kecil. Sehingga semua ini memberikan dimensi lain bagi watak pergumulan antara pembela al-haq dan pembela al-bathil, yang harus diperhitungkan.
- Ikhwan tidak memugar, tetapi mendirikan yang baru
- Perubahan total, kerja Ikhwanul Muslimin terhadap empat fenomena berikut:
a. Sebagian besar Negara-negara Islam berada di bawah jajahan militer para musuh Allah
b. Sebagian besar kaum muslimin tidak mengetahui hakekat agama mereka
c. Semangat jihad fi sabilillah hampir tidak ada
d. Semangat beragama hamper terbatas pada kalangan kaum tua saja. Inipun dalam bentuknya yang negarif
Persoalan Kelima
- Kembali kepada Sirah Nabawiyah, kembali kepada prinsip, menanggapi tribulasi dan gangguan dengan bijaksana karena sesungguhnya tribulasi dan gangguan-gangguan itu bukannya menghancurkan dakwah kita tetapi merupakan sunnatullah yang berbentuk penggemblengan. Jangan menyalahkan pemimpin atas terjadinya tribulasi dan ganguan-gangguan tersebut. Karena akan menimbulkan keraguan dalam jalan dakwah ini.
Persoalan Keenam
- Saku para da’i dan sumber dana Ikhwanul Muslimin berasal dari para anggota jama’ah yang ikhlas lillahi ta’ala menyerahkannya untuk kemudahan jalan dakwah Ikhwanul Muslimin. Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri, dan harta mereka dengan memberi surga kepada mereka”(At-Taubah:111)
- Senantiasa menerapkan prinsip Syura (Musyawarah)
- Ikhwanul Muslimin mengasihi dan menghimpun, di samping mencintai dan bekerja
- Orang-orang Ikhlas karena Allah tidak perlu “berkedok”
- Ikhwanul Muslimin bukan Agent atau antek salah satu pemerintahan tertentu
Persoalan Ketujuh
- Masih saja muncul pertanyaan dan gugatan sekitar beberapa masalah yaitu masalah bahwa Ikwanul muslimin mengklaim jama’ah mereka adalah Jam’aatu Muslimin dan orang-orang di luarnya bukan Muslim. Itu SALAH. Selain itu juga, Masalah ikhwan dan polotik, masalah ikhwan dengan jama’ah-jama’ah yang lain, masalah ikhwan yang terlalu mengagungkan iman Hasan al-Banna, masalah ikhwan dan Tasawuf, masalah ikhwan dan persoalan takfir, masalah ikhwan dan prinsip salaf, serta masalah ikhtilaf akan ijtihad dari setiap individu, anggota jama’ah.

BAB IV. DAKWAH FARDIYAH

Tahapan-Tahapan Dakwah Fardiyah
- Tahap Pertama, membina hubungan dan mengenal setiap orang yang hendak didakwahi
- Tahap Kedua, membangkitkan iman yang mengendap dalam jiwa
- Tahap Ketiga, membantu memperbaiki keadaan dirinya dengan mengenalkan perkara-perkara yang bernuansa ketaatan kepada Allah dan bentuk-bentuk ibadah yang diwajibkan.
- Tahapan Keempat, menjelaskan tentang pengertian ibadah secara syamil (menyeluruh/komprehensif) dan harus memenuhi dua syarat dalam pelaksanaannya yaitu: niat yang benar (karena Allah) dan menepati syara’ (mengikuti Rasulullah)
- Tahap Kelima, menjelaskan bahwa keberagaman kita tidak cukup hanya dengan keislaman diri kita sendiri, hanya dengan seorang muslim yang taat menjalankan kewajiban ritual, berperilaku baik dan tidak menyakiti orang lain, lalu selain itu tidak ada lagi. (pembicaraan seputar pembangkitan rasa tanggung jawab terhadap dakwah Islam)
- Tahapan Keenam, menjelaskan bahwa kewajiban di atas tidak mungkin dapat ditunaikan secara individu
- Tahapan Ketujuh, menjelaskan jama’ah mana yang bagus utuk mad’u bergabung di dalamnya. Hal ini butuh penjelasan penuh hikmah dan kekuatan argumentasi serta meyakinkan
Pesan-Pesan Khusus untuk Dakwah Fardiyah:
- Giat dan sungguh-sungguh dalam beramal, melakukan pengecekan evaluasi secara rutin agar dapat meneruskan perjalanan dakwah dengan tenang dan sukses
- Mereka yang menjalankan Dakwah Fardiyah sebaiknya diarahkan dan diberi bimbingan dalam hal metode, pengertian-pengertian, dan urutan tahapan-tahapan dakwah
- Membantu aktifitas dakwah mad’u

BAB V. QADHAYA ASASIYAH DALAM DAKWAH
Qadhaya Asasiyah (issu-issu dakwah yang bersifat asasi) dapat membantu membentengi dakwah dan para pembelanya dari penyimpangan, kemandegan dan keterpecahbelahan. Beberapa qadhiyyah tersebut adalah:
1. Pandangan yang jelas
2. Kesinambungan (Istimrariyah)
3. Pertumbuhan dan Kekuatan
4. Menjaga Orisinalitas
5. Perencanaan dan Pengembangan serta Pembaruan
6. Kesatuan Pandangan
7. Bekerja dalam lapangan dakwah (‘amal shalih)
8. Pewarisan dan Regenerasi yang Mantap
9. Evaluasi

BAB VI. KEZALIMAN

Kezaliman dan para pelakunya
“Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri Ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". Fir'aun menjawab: "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan Sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka".” (Al-A’raf:127)
“Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (Al-Baqarah 165-167)
Kezaliman pasti akan berakhir
“Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am:45)
Zhalim dan orang-orang yang dizhalimi
- Bagi orang-orang yang dizhalimi:
a. Ikhlaskan Niat
b. Bersyukur karena mendapat perlakuan zhalim dalam upaya memperjuangkan agama-Nya
c. Bersabarlah. “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”(Al-Baqarah: 155-157)
d. Selalu ingat bahwa Tribulasi adalah sunnatullah dalam jalan dakwah
e. Sabar tidak berarti ridha dengan Kezhaliman
f. Berlindung kepada Allah: at-Thalaq:2-4 Az-zumar: 36 At-Taubah:51 Ibrahim 12, 84-86 Ali Imran 172-175 al-Anbiya’:87
g. Hal-hal yang meringankan kepedihan:
• Hadapkan diri dengan Kitabullah, baca dengan khusu’
• Sholat: al-Baqarah:153
• Sering-seringlah berdo’a
• Yakinkan pada diri bahwa apa yang dipilihkan oleh Allah untukmu itu sungguh-sungguh baik untukmu, walaupun secara lahir nampak buruk dan tidak disukai oleh jiwamu: Albaqarah:216
• Yakinlah pertolongan Allah selalu ada: Al-Hajj:14
h. Sibukkan diri dengan Kebaikan
i. Waspadalah:
• Jangan sampai karena penyiksaan melontarkan kata-kata mencaci, melaknat atau bahkan menghukumi orang lain kafir. Tetapi doakan mereka dengan cara yang baik (al-Hijr:85)
• Jangan sampai menyebut-nyebut kesabaran atau ketegaranmu dalam menghadapi ujian
• Jangan sampai merasa iri dengan saudara Muslim yang tidak mendapat penyiksaan dan berhura-hura. Sehingga kita menuduh mereka “Kufur”.
• Jangan sampai merasa bahwa kesabaran dan ketegaran itu merupakan kemampuanmu dan kehendakmu. Padahal hal itu adalah anugerah dari Allah. Seharusnya memuji Allah atas Karunia-Nya
• Janganlah merasa puas dan yakin bahwa kamu sudah mencapai derajat atau tingkatan yang tinggi bila terus mendapat siksaan. Tapi seharusnya senantiasa mohon perlindungannya
• Waspadalah terhadap ujian atau cobaan yang berupa kebaikan. Contohnya keselamatan dari penyiksaan dan cobaan nikmat dunia.

BAB VII. AL-QIYADAH WAL JUNDIYAH

Kewajiban ber’amal jama’i
Karakter dakwah Islamiyyah saat ini mewajibkan setiap muslim bergerak dan berusaha mewujudkan seluruh tuntutan Islam. Setiap muslim wajib berusaha mewujudkan dan menegakkan Daulah Islamiyyah ‘Alamiyyah, suatu pemerintahan Islam internasional. Tujuan tersebut hanya dapat dicapai dengan Amal Jam’i. Maka Amal Jama’I adalah wajib, sebagaimana kaidah usul fiqh “suatu yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dilaksanakn dengan-nya, maka sesuatu (yang membuat sempurna) itu wajib”. Islam bukan “dien- ndividual” Islam, tapi Islam adalah ad-dien ummah wahidah, satu tanah air satu tubuh Islam menyeru pada ke-satu-padu-an kaum muslimin. Allah berfirman;
“dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali (Ad-Dien) Allah, dan jaganlah bercerai-berai..” (Ali Imran: 103)
Jama’ah Harus Memiliki Manhaj, Pimpinan dan Anggota
Imam Hasan al-Banna mengatakan :
“mengulang kaji seluruh organisasi atau riwayat bangsa-bangsa, anda akan mendapati bahwa asas keberhasilan, kebangkitan dan pembangunannya adalah adalah adanya manhaj…”.
Maka, satu jama’ah tidak akan bernilai jika pimpinanan tidak berwibawa dan tidak ditaati anggotanya dalam persoalan yang ma’ruf, bukan dalam persoalan yang munkar dan makshiyat.
Pimpinan dalam satu jama’ah, ibarat kepala bagi tubuh. Pimpinan juga merupakan lambang kekuatan, persatuan, keutuhan dan disiplin shaff. Persatuan adalah lambang kekuatan, namun pimpinan tiak boleh hanya sebatas lambang. Maka, pimpinan memerlukan kemampuan, kelayakkan dan keprimaan. Selain itu pimpinan tidak boleh bertindak secara inkonstitusional, ia harus tunduk pada ketentuan jama’ah. Kita harus berhati-hati dalam memilih pimpinan. Jangan memilih pimpinan secara pilih-kasih dan kong kali-kong-(Hadis dari Ibnu Abbas, riwayat al-Hakam dan disahkan oleh Syuyuthi), selanjutnya tidak boleh memberikan jabatan/amanah pada orang yang memintanya- (Hadis dari Abu Musa, riwayat Syaikhan, abu Daud dan Nasa’I).
Sebagaimana dalam Sirah Rasulullah, tampak jelas bahwa beliau mendidik dan membina generasi muslim pertama dengan ajaran Al-Qur’an. Mereka menjadi tiang-pondasi kuat bagi Daulah Islamiyyah di Madinah. Nabi mempersatukan kaum muslim dalam ikatan “persaudaraan “ se-Aqidah-Islam. Tajjarut----Ta’rief----Tanfidz.

ATURAN DAN ADAB PERGAULAN PIMPINAN DAN ANGGOTA

Saling menghormati dan Menghargai
Sebagaimana hadits Nabi SAW;
“Barang siapa taat pada-ku maka dia taat pada Allah, dan barang siapa durhaka pada-ku maka dia durhaka pada Allah. Dan barang siapa taat pada amir maka ia taat pada-ku, dan barang siapa durhaka pada amir maka ia durhaka pada-ku”
Adab Pergaulan dan Komunikasi
Menghindari perkataan yang menyinggung hati, berburuk sangka dan tidak pantas. Katankanlah yang benar namun dengan cara yang ma’ruf.
Saling Mempercayai dan Berbaik Sangka
Allah berfirman; “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak berprasangka. Sungguh sebagian prasangka itu dosa, dan jaganlah kamu mencari-cari kesalahan, jagan menggunjing sebagian yang lain. Sukakah kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik atas hal itu. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang.” (Al-Hujurat : 12)
Saling Menasehati
Rasul bersabda; “Ad-dien adalh nasihat. Kami bertanya, “untuk siapa”? Rasulullah menjawab, “bagi Allah, Rasul-Nya, Kitab-nya pemimpin-pemimpin kaum Muslimin dan orang-orang awam.
Saling Mencintai dan Bersaudara
Firman Allah; “dan katakanlah pada hamba-hamba-Ku, hendaknya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesunguhnya syaitan adalah penimbul perselisihan di antara mereka. Sungguh syaitan adalah musuh yang nyata bagimu”. (Al-Isra : 53)
Mempererat Hubungan antara Pimpinan dan anggota
Tali hubungan/komunikasi laksana urat syaraf dalam tubuh. Bila mekanisme komunikasi lumpuh, maka amal jama’ah akan terganggu, malah akan melumpuhkan seluruh gerakkan.
Hal pergantian Pimpinan
Beramal jama’ah dalm tingkatan apapun adalah ibadah pada Allah. Tidak boleh merasa berat untuk beramal dan bergerak dibawah pimpinan dan komando yang baru. Setiap anggota jama’ah harus siap dan selalu mempersiapkan diri untuk mengemban amnah menjadi pimpinan tatkala tiba waktunya.
Tunduk pada Hukum Allah dan Rasul-Nya
Sangat jelas sebagaimana dalam Al-Qur’an :An-nisa ayat 59, 65 dan Al-Ahzab ayat 36).
Mengkaji berbagai Harokah dan membina pengalaman

Pimpinan dan anggota harus bersama-sama memperbaiki (islah) gerakan dan hendaknya mengkaji sejarah pergerakan Islam yang lain. Selalu mengambil segi positif dan meninggalkan ke-mudlaratan bagi jama’ah.

Senin, 24 November 2014

Akhlak Kepada Sesalam Ummat Islam




Islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat. Dari bagaimana kita berinteraksi pada Allah dan Berinteraksi sesama manusia. Dalam berhubungan dengan manusia Allah banyak mengaturnya dalam Alqur’an serta Hadits dan Sunnah Rasulullah. Diantaranya :
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS.al-Hujuraat:10).
“Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain.” (HR. Bukhari – Muslim).
Dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw bersabda: “Perumpamaan mukmin dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu satu tubuh, apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan hal yang sama, sulit tidur dan merasakan demam.” (HR. Muslim).
Dalam persahabatan perselisihan karena berbeda pendapat dan ijtihad itu adalah hal yang biasa. Namun tidak serta jalinan ukhuwah dan silaturahim menjadi terputus. Ingatlah, Allah Swt berfirman:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara…” (QS. Ali Imran: 103)

Perselisihan dan pertengkaran diantara kaum muslim, adalah akibat tidak menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk. Selama ini, kita merasa diri sudah beriman, paling shaleh, dan merasa sudah menjalankan sunnah-Nya. Sementara ia tidak menyadari dirinya telah merendahkan martabatnya terhadap sesama muslim, selalu berprangsaka tidak baik dan menggunjing keburukannya.
Ingat-ingat lagi sabda Rasulullah saw: “Tidak beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim dari Anas ra).
Karena itu, seseorang belum dapat dikatakan bertakwa sebelum ia mencintai saudaranya. “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. az-Zukhruf: 67).

Ada beberapa hak-hak saudara muslim kita yang harus kita tunaikan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; bila ia memanggilmu penuhilah; bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (artinya = semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)". (Riwayat Muslim)
Beberapa pelajaran yang di petik dari hadist ini:

1.    salam. Rasulullah bersabda dalam shahih muslim. “Kalian tidak akan masuk hingga kalian beriman. Tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan membuat kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.
Hukum memberi salam sunnah, namun menjawabnya jika sendiri adalah wajib ‘ain, jika salam itu di tujukan untuk beberapa orang maka wajib kifayah, artinya bila sudah ada salah satu yg menjawab menggugurkan kewajiban lainnya.
2.  Jika kalian di undang, maka hadirilah undangan tersebut. Rasulullah pernah bersabda: “Barang siapa di undang dan ia tidak memenuhinya, sungguh ia mendurhakai Allah dan Rasul Nya.
3.  apabila saudaramu minta di nasehati, maka nasehatilah. Hukum memberi nasehat adalah fardhu kifayah, artinya kewajiban itu gugur jika dilaksanakan oleh salah satu dari kelompok tersebut.
4.  Apabila seorang muslim bersin kemudian bertahmid, maka jawablah. Seorang bersin, kemudian ia bertahmid ‘alhamdulillah’ ,balaslah ‘yarhamukallah’, dan org yg bersin berkata ‘yahdikumullah’. Mendoakan org bertahmid hukumnya fardhu kifayah, namun bagi yg bersin tidak bertahmid, hukumnya makruh.
Bila bersin lebih 3x, maka doakanlah karena bersin lebih dari 3x itu tidak sehat.
5.  apabila saudaramu sakit, maka jenguklah dia. Dalam hadis riwayat Tirmidzi dari Ali R.A mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang muslim yg pagi-pagi menjenguk saudaranya yg sedang sakit, kecuali 70.000 malaikat mendoakan orang tersebut hingga petang hari. Tidaklah pula seorang muslim menjenguk saudaranya pada petang hari, melainkan 70.000 malaikat mendoakannya hingga subuh pagi hari, dan baginya di siapkan domba di dalam surga(Hadis ini Hasan)
6.  apabila saudaramu meninggal maka antarkan jenazahnya.
Disebutkan di dalam ash shahihain dari abu hurairah R.A, ia mengatakan bahwasanya Rasulullah SAW Bersabda:
“Barangsiapa yang menshalatkan jenazah dan tidak ikut (menguburnya) maka baginya satu qirath, dan jika ia ikut menguburnya maka baginya dua qirath. Apa yang dimaksud dengan qirath?, Rasulullah SAW menjawab, yang terkecil di antaranya keduanya seperti gunung uhud.

Begitu indahnya Islam mengatur akhlak kepada sesama muslim, maka sungguh tidak pantas jika Islam di indentikkan dengan kekerasan atau terorisme. Sebagai ummat islam mari tumbuhkan kembali nilai-nilai keislaman dalam interaksi kita sehari-hari. Wallahu’alam bi showab.

Minggu, 16 November 2014

Ikhwan dan Akhwat Boleh kok Berduaan, Masa' Sih?



Ah masa sih? Memangnya boleh kita berduaan dengan akhawat? Apa dalilnya? Bukankah itu haram dilakukan? Dan kalau berduaan itu bukankah yang ketiganya adalah setan?

Kalimat demi kalimat pertanyaan itu tidak berhenti keluar dari mulut para jamaah dan hadirin yang memenuhi aula majelis taklim. Bertubi-tubi pada hadirin dan jamaah mengajukan protes berat kepada ustadznya. Mereka tidak terima kalau ustadz yang menjadi nara sumber pada hari itu mengawali ceramah dengan membuat statemen kontroversial. Beliau bilang bahwa para ikhwan dibolehkan secara sah dan syar'i untuk duduk berduaan dengan para akhawat.

Ah masak sih? 

Maklumlah, selama ini yang selalu ditekankan dan diajarkan bahwa ikhwan diharamkan untuk berduaan dengan akhawat. Jangankah berduaan, lha wong ikhtilat atau bercampur baur saja pun sudah diharamkan dengan tegas. Kok bisa-bisanya si ustadz yang satu ini bicara terbalik. 

"Jangan-jangan ustadz ini lagi kumat penyakitnya, atau habis mabok teler kena pengaruh obat bius". Begitu protes salah satu jamaah yang duduk agak di pojok. Awalnya dia duduk di pojokan sudah sia-siap mau tidur di pengajian hari itu. Tetapi begitu si ustadz bicara bahwa ikhwan dan akhwat dihalalkan sehalal-halalnya untuk berduaan, kontan rasa kantuknya hilang dan langsung protes.

Untungnya si ustadz tidak tersinggung dengan protes yang berbau tuduhan dan fitnah itu. Malah beliau senyum-senyum penuh arti. 

Maka semakin penasaran saja para jamaah minta penjelasan, dari mana judulnya kok ikhwan boleh duduk berduaan dengan akhawat?

Maka sang ustadz mulai mengklarifikasi. "Mohon sabar dan jangan marah-marah dulu. Mohon perhatikan ucapan saya ya. Saya cuma bilang bahwa ikhwan dan akhawat itu boleh duduk berduaan". 

"Ah ustadz ini ngawur dan ngomong sembarangan saja", celetuk jamaah yang duduk paling depan.

"Ya makanya dengarkan dulu. Gini ya, saya tanya coba kepada antum hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah. Kira-kira ada yang tahu nggak apa arti kata 'ikhwan'?. Secara berjamaah hadirin menjawab kompak,"Saudaraaaaa!!!". "Seratus!", jawab sang ustadz. "Kalau arti kata 'akhawat', ada yang tahu?", tanya ustadz lagi. "Saudari perempuaaaaan!!", jawab hadirin kompak. "Wah pada pinter-pinter ya", ledek sang ustadz.

"Nah sekarang saya tanya lagi, kalau saudara laki-laki dan saudari perempuannya itu mahram apa bukan?", tanya ustadz kembali. "Mahraaaaam!!, jawab hadirin tanpa sadar. 

Tiba-tiba jamaah pada diam sejenak tidak ada yang menjawab, lau pecahlah tawa mereka. "Kena lu gue kerjain", kata sang ustadz yang memang asli betawi dengan logak khas daerahnya.

Rupanya selama ini kita terlanjur menjadikan istilah ikhwan dan akhawat bukan lagi pada makna aslinya, tetapi sudah terlalu jauh pada istilah kiasan. Dan sayangnya makna kiasan ini oleh mereka yang awam dan masih bau kencur seolah-olah berubah menjadi makna asli.

Aslinya dan seharusnya memang makna istilah 'ikhwan' itu berarti saudara laki-laki dan makna kata 'akhawat' itu berarti saudari-saudari perempuan. Dan hubungannya antara ikhwan dan akhawat itu bisa macam-macam, bisa satu ayah dan satu ibu (syaqiq/syaqiqah), atau bisa juga hanya satu ayah tapi lain ibu (akh/ukht li ab), dan bisa juga saudara seibu tapi tidak seayah (akh/ukht li um). 

Yang biasa belajar ilmu faraidh pasti paham istilah-istilah ikhwan dan akhawat ini. 

Tetapi buat para aktifis dakwah yang datang bukan dari jenjang pendidikan syar'i baku, mereka tidak kenal bahasa Arab, tetapi semangat jadi aktifis saja,  yang mereka kenal dari istilah ikhwan dan akhawat tidak lain adalah teman dan rekan sepengajian. Teman satu pengajian yang laki sering disebut dengan 'ikhwan', sedangkan teman pengajian yang peremuan sering disebut 'akhawat'.

Lucunya, di WC masjid sebelah rumah ada tulisan lucu, yaitu ikhwan dan akhawat. Maksudnya yang bertuliskan ikhwan adalah WC untuk laki-laki dan yang bertuliskan 'akhawat' berarti WC untuk perempuan. Hahaha.

Padahal mereka bukan saudara, tidak ada hubungan darah dan jelas bukan seayah tidak seibu. Hubungan antara sesama aktifis dakwah itu hanyalah hubungan orang asing alias ajnabi dan jelas-jelas bukan mahram. Tetapi anehnya kenapa disebut ikhwan dan akhwat?

Sebaliknya, kakak beradik yang jelas-jelas lahir dari rahim yang sama, malah tidak disebut sebagai ikhwan dan akhawat. Alasannya, karena saudari perempuannya tidak pakai jilbab, maka tidak disebut akhwat. Alasan lainnya, karena saudara laki-laki sekandung itu tidak ikut pengajian yang sama, makanya tidak disebut sebagai ikhwan.

Istilah ikhwan dan akhawat telah bergeser maknanya terlalu jauh meninggalkan makna aslinya. Sampai orang awam pun tidak tahu arti yang sesungguhnya. Wajarlah kalau kebingungan begitu ustadz kita yang cerdas tadi bilang bahwa ikhwan dan akhawat boleh berduaan, bahkan bersalaman, sentuhan kulit, malah boleh terlihat sebagian auratnya.

Ya, namanya saja kakak dan adik, mereka jelas-jelas mahram, karena mereka adalah ikhwan dan akhawat sejati. The real ikhwan and akhwat.

"Jadi bagaiman hadirin sekalian, masih ada yang mau protes?", tantang sang ustadz penuh kemenangan. 

Maka jamaah pun menunduk terdiam sambil senyum-senyum.
Ahmad Sarwat, Lc., MA

Rabu, 05 November 2014

Batasan Beladiri Sesuai Syari'at...

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada dasarnya bela diri hukumnya mubah. Bahkan jika latihan ini dilakukan dalam rangka menyiapkan diri untuk ber jihad, termasuk i’dad (mempersiapkan) yang Allah perintahkan.
Allah berfirman,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ

Persiapkanlah untuk menghadapi mereka, segala kekuatan yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu (QS. at-Taubah: 60)

Dan semua amal tergantung dari niatnya. Ketika latihan bela diri dilakukan dalam rangka menyiapkan diri untuk berjihad membela kebenaran, insyaaAllah bernilai pahala. Namun jika sebatas hobi dan yang penting happy, jelas tidak ada sisi pahalanya. Dan yang lebih penting, jangan sampai latihan bela diri ini mengantarkan anda kepada kemaksiatan.
Untuk itu, kita akan menyimak beberapa batasan syariat, agar latihan bela diri tidak menjadi sumber dosa.

Pertama, bela diri hanya olah raga dan permainan. Untuk itu, sikapi latihan ini layaknya olah raga dan bukan aliran kepercayaan. Sehingga tidak boleh dijadikan standar al-wala wal bara’ (loyal dan benci).
Jangan sampai anda memusuhi muslim yang lain, hanya karena beda perguruan bela diri.  Sebaliknya, anda juga tidak boleh loyal dengan orang kafir dan orang musyrik, hanya karena dia teman seperguruan dalam latihan bela diri.

Realita pahit yang bisa kita saksikan di masyarakat, perguruan dan padepokan bela diri, telah dijadikan standar loyalitas. Kita tidak tahu, sampai kapan perguruan Kera Sakti akan akur dengan perguruan Setia Hati Terate. Kita juga tidak tahu, sampai kapan taekwondo akan menghentikan perang dingin dengan karateka.

Masing-masing punya gengsi tersendiri. Dan masing-masing sangat membanggakan perguruannya. Bisa jadi, ini muncul karena dituggangi doktrin ideologi dari perguruannya.
Namun apapun itu, islam melarang membangun loyalitas karena latar belakang suku, keelompok, apalagi hanya sebatas perguruan bela diri. Karena ini loyalitas model jahiliyah. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah manyampaikan khutbah,

أَلا وَإِنَّ كُلَّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ تَحْتَ قَدَمِيَّ

Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang menjadi tradisi jahiliyah, ditaruh di bawah kakiku. (HR. Muslim 3009, Abu Daud 1907 dan yang lainnya).
Karena itulah, orang yang mati karena latar belakang kesukuan atau loyalitas kelompok, digolongkan sebagaimana mati gaya jahiliyah.

Dari Jundub bin Abdillah al-Bajali Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Siapa yang terbunuh karena latar belakang yang tidak jelas, menghidupkan semangat kesukuan atau membela kelompok, maka dia mati dalam kondisi jahiliyah. (HR. Muslim 1850).
Loyalitas yang diajarkan islam adalah loyalitas yang dibangun di atas iman dan islam. Allah berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu. (QS. al-Hujurat: 10)

Kedua, hindari semua yang berbau klenik dan kesyirikan
Salah satu sarang menyusupnya klenik dan kesyirikan adalah kegiatan bela diri. Terutama yang banyak mengandalkan olah pernapasan. Terlebih, umumnya peserta bela diri, mereka memiliki latar belakang ingin memiliki kekuatan dan kesaktian.
Mungkin yang menjadi pertannyaan adalah bagaimana cara mengenali latihan itu termasuk kesyirikan?

Secara umum, ulama memberikan kaidah: “mengambil sebab yang bukan sebab, itu kesyirikan”. Ketika anda ingin mendapatkan sesuatu, namun cara untuk mewujudkannya sangat tidak logis, itu masuk dalam kaidah di atas.

Terkait masalah bela diri, ada beberapa indikator untuk mengenali bahwa itu kesyirikan, atau setidaknya anda hindari,

Menggunakan jimat. Jika guru anda menjanjikan, siapa yang sudah mencapai derajat tertentu akan mendapatkan ‘tameng pelindung’ atau ‘tabir ghaib’, baik berupa cincin, sabuk, gelang, kalung atau apapun bendanya, anda harus segera menghindarinya. Terutama, jika cara untuk mendapatkan itu, harus melalui ritual ibadah tertentu, seperti puasa, wirid, semedi di kuburan, hingga shalat tahajud malam jumat. Semua itu adalah sarana untuk mendatangkan jin yang akan membantunya.

Perguruan silat yang menawarkan ilmu kanuragan. Apapun cara yang digunakan, hakekat ilmu kanuragan adalah sihir. Meskipun dibungkus dengan kedok wirid, dzikir, amalan, suluk dan yang lainnya. Karena amalan ibadah bisa saja dikerjakan dalam rangka pemujaan terhadap jin dan setan.

Latihan pernapasan namun diiringi dengan dzikir atau wirid tertentu. Dengan tujuan untuk meringankan tubuh atau pukulan jarak jauh atau kepretan pingsan. Semua ini kebohongan, karena jelas di luar kemampuan manusia. Dia bisa melakukan itu karena bantuan jin. Medianya adalah wirid ketika proses Pernapasan.

Membangun telapati antara guru dan murid. Bisa dengan memanggil nama guru atau mengingat wajah guru. Dengan itu, akan terhubung jalinan batin yang dianggap sumber kekuatan bagi si murid. Anda bisa memastikan, ini kedustaan. Karena tidak mungkin, hanya sebatas membayangkan guru, dia bisa memiliki tambahan kekuatan.

Karena itu, prinsip penting yang anda kedepankan: sikapi bela diri sebagaimana olah raga, murni latihan fisik, sehingga jauhkan semua bentuk ibadah, suluk dan amalan, ideologi, dst.
Ketiga, hindari bentuk salam yang terlarang, misalnya dengan membungkuk layaknya orang rukuk. Baik kepada guru maupun sesama lawan tanding.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

قال رجل: يا رسول الله أحدنا يلقى صديقه أينحني له؟ قال: فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا

Ada orang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
‘Ya Rasulullah, jika kami ketemu teman, apakah boleh membungkuk?’
Jawab beliau, ‘Tidak boleh.’

قال: فيصافحه؟ قال: نعم إن شاء

Dia bertanya lagi, ‘Bolehkah dia menyalaminya?’
Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya, dia salami, jika dia mau.”
(HR. Turmudzi 2728, Ibn Majah 3702, dan dishahihkan al-Albani).
Syaikhul Islam mengatakan,

وأما الإنحناء عند التحية: فينهى عنه، كما في الترمذي عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أنهم سألوه عن الرجل يلقى أخاه ينحني له؟ قال : لا) ولأن الركوع والسجود لا يجوز فعله إلا لله عزوجل

Membungkuk ketika memberi salam hukumnya terlarang. Sebagaimana diriwayatkan Turmudzi dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa para sahabat bertanya, jika ada orang yang ketemu temannya, bolehkah dia membungkuk? Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tidak boleh.’ Karena rukuk dan sujud tidak boleh dilakukan kecuali untuk Allah. (Majmu’ Fatawa, 1/377)

Keempat, hindari memukul wajah
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,

إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ

Jika kalian hendak memukul seseorang, hindari wajah. (HR. Bukhari 2420)

Kelima, jaga hati, jangan sampai kemampuan bela diri menjadi sebab anda bersikap sombong. Bisa jadi, setan memanfaatkan kondisi anda untuk dijadikan kesempatan menggoda anda untuk berbuat dzalim.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَكُونُوا عَوْناً لِلشَّيْطَانِ عَلَى أَخِيكُمْ

Janganlah kalian menjadi penolong bagi setan untuk mendzalimi saudara kalian. (HR. Ahmad 4252 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Karena itu, pandai-pandailah jaga emosi. Di saat anda punya kelebihan bela diri, anda harus lebih pandai bersabar.

Semoga Allah selalu memberikan bimbingan hidayah dan taufiq bagi kita semua.
Allahu a’lam.


Sumber : http://www.konsultasisyariah.com/batasan-bela-diri-yang-sesuai-syariat/#