Senin, 25 Mei 2015

RUQYAH MANDIRI TANPA KESURUPAN..


RUQYAH MANDIRI TANPA KESURUPAN..
By : Tono Esfandiar

Persiapkan bbrp kantong plastik, tissue dan air minum. Utk melakukan praktek ini
Lakukan Tahapan berikut ini.
1. Dm kondisi sdh berwudhu, duduk santai nyaman lalu saksikanlah video surah An Nur : 35 yg dibacakan oleh Salman Utaybi. Ulangi nonton 2 sd 3 kali.
2. Istighfar tobati semua kesyirikan, kemaksiatan dr akil baligh hingga saat ini. Bertobatlah dengan sungguh2, timbulkan rasa penyesalan yg dalam dr semua dosa yg pernah dilakukan.
3. Lakukan Ikrar Pemutus.
Bismillahirrohmanirrohim...
Wahai Allah yg Maha Menyaksikan, hamba secara sadar mewakili diri sendiri, kedua orang tua, nenek kakek moyang, keturunan dan seluruh keluarga besar mulai saat ini memutuskan semua perjanjian yg pernah dibuat oleh bangsa jin secara sadar maupun tdk sadar. Ya Allah jika ada jin dlm tubuh hamba maka tariklah keluar dr tubuh hamba dengan cara yg paling lembut, paling mudah tanpa menyakiti diri hamba. Baca syahadat dan takbir 3 kali.
4. Ambil air putih di gelas lalu bacakan ayat ruqyah 3 Qul ( al ikhlas, al falaq dan an naas) tiup lalu bacakan innalillahi wa inna ilaihi rojiuun 3 kali tiup ke air. Yakini air ini mjd obat dan yakini bahwa semuanya dtg dr Allah dan akan kembali kpd Allah.
5. Berdoa dengan khusyu posisi tangan berdoa. :
Ya Allah haramkanlah hati dan pikiran hamba dikuasai oleh jin. 3x
Ya Allah haramkanlah darah hamba dimasuki oleh jin. 3x
Ya Allah haramkanlah tangan kaki dan tubuh hamba dikuasai oleh jin. 3x
Ya Allah apabila ada jin dlm tubuh hamba maka lemahkanlah semua kekuatan mereka.
Ya Allah apabila ada jin dlm tubuh hamba tariklah meeka semua keluar dr tubuh hamba dgn cara yg paling lembut dan mudah.
lalu bacakan 3 Qul tiup ke telapak tangan, lalu usapkan ke wajah dan seluruh tubuh. Bila mual maka lakukan usapan dr bawah puser ke dada lalu ke leher dan muntahkan ke plastik sambil ucapkan. Bismillahi Allahu Akbar..
5. Jika ada tubuh yg tdk nyaman, atau sakit maka lakukan usap tarik buang ke plastik sambil mengucapkan Bismillahi.. Allahu Akbar..
6. Usap usap dada dan perut sambil berdoa ya Allah apabila ada penyakit fisik , psikis, gangguan jin, sihir dan benda ghoib yg ada di dlm tubuh hamba maka hamba mohon tariklah keluar semuanya dr tubuh hamba dengan cara yg paling lembut dan mudah tanpa menyakiti diri hamba. Lakukan usap tarik buang.
7. Jika tergambar wajah seseorang saat melakukan ruqyah mandiri maka ambillah air gelas td lalu celupkan jari telunjuk kanan dan berdoa " ya Allah apabila ada penyakit ain antara saya dengan .....(sebutkan nama wajah yg timbul dlm pikiran) maka hamba mohon putuskanlah penyakit ain ini ulangi 3x tiup lalu minum 7 tegukan.
Selamat mencoba kabari hasilnya. Kesembuhan datangnya hanya dr Allah maka marilah kita hijrah dr jahil ke sunnah. Perbaiki diri perbaiki ibadah sesuai sunnah, dzikir pagi petang dan dekatilah org org sholeh. Semoga Allah menolong kita semua dr semua gangguan makhluk jahat, dr penyakit dan takdir buruk dan semoga kita semua dapat sembuh dr penyakit. Aamiin.
Follow us :
👥FB : Rumah Dakwah Indonesia - RDI
🌐Twit : @RDI_rumahdakwah
rumahdakwah-indonesia.blogspot.com
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Reposted by :
®Rumah Dakwah Indonesia 🇮🇩
🎏🐠🎏🐠🎏🐠🎏🐠🎏

Rabu, 20 Mei 2015

Nafsul Insan

Nafsul Insan
by: Rudifillah El Karo






الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ 
الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-ya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal  kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.

Ikhwafillah Rahimakumullah..
Manusia adalah makhluk yang sempurna,insan yang Allah anugrahkan kelengkapan yang tidak dimiliki oleh mahluknya yang lainnya dengan sempurna yaitu Akal, Ruh dan Nafsu. Kelengkapan inilah yang membuat manusia memiliki drajat yang lebih tinggi dari Makhluknya yang lain.

Sebagai mahluk yang memiliki kelengkapan antara Jiwa (Ruh) dan Nafsu, manusia sesungguhnya diuji Allah agar mampu mengendalikan keduanya, agar terus tunduk dan mampu menghambakan diri kepada Allah. Sebagai mahluk ciptaan Allah SWT, setiap manusia jiwanya diberi dua jalan, yaitu jalan takwa dan fujur (kesesatan). Kita diberi kebebasan untuk memilih yang baik atau yang buruk.

"Jiwa manusia adalah pangkal kendali baik buruk  manusia secara keseluruhan. Allah telah mengilhamkan (memberikan kebebasan memilih) kepada jiwa manusia itu fujur atau taqwa" (QS. 91: 7 - 10).

Pilihan itu sangat potensial bersaing untuk mendominasi jiwa manusia, bahkan bisa terjadi konflik berkepanjangan diantara keduanya.  Yang berkepentingan pada kedua pilihan tersebut adalah nafsu (al hawa) dan ruh ( ar ruh). Nafsu cendrung untuk fujur, dan ruh cendrung untuk takwa.

Dilihat dari dominasi ruh dan nafsu itu terhadap diri manusia, maka jiwa manusia itu dapat kita bedakan menjadi tiga keadaan sebagai berikut:

1. Dominasi ruh lebih kuat dari pada hawa nafsu.
Pada kondisi ini manusia akan berorientasi atau punya kecendrungan untuk selalu berzikir di setiap keadaan dalam rangka mengontrol diri, sehingga jiwa pun selalu merasakan ketenangan untuk selalu berbuat yang terbaik. Jiwa - jiwa yang seperti ini di dalam alquran disebut dengan istilah nafsul muthma'innah.

2. Dominasi ruh dan hawa nafsu seimbang.
Pada kondisi ini akallah yang paling berperan dan akan terjadi konflik batin yang keras antara keinginan beramal saleh dengan kecendrungan untuk berbuat maksiat, penuh kebimbangan. (pelaksanaannya fifty-fifty). Jiwa - jiwa seperti ini di dalam al Qur'an disebut dengan  nafsul lawwamah atau nafsu yang selalu menyesali diri.

3. Hawa nafsu lebih dominan dibandingkan ruh.
Pada kondisi ini manusia akan dikuasai oleh syahwatnya (keinginan untuk bersenang-senang), dan berikutnya jiwa akan selalu menyuruh untuk melakukan hal-hal buruk (maksiat). Kondisi jiwa seperti ini dinamakan alQur'an sebagai nafsul amaratu bis su' yaitu nafsu yang selalu menyuruh pada keburukan.

"Apakah engkau tidak perhatikan orang yang telah menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya. Apakah engkau akan dapat menjadi pelindungnya. Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memehami? Mereka itu hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi." Qs. Al Furqan: 43-44)

Jika Nafsu mulai menguasai manusia,dia akan menjadi lebih rendah dari binatang ternak. Kenapa binatang ternak??
Karena binatang ternak lebih rendah dari binatang liar karena mereka menjadi pemalas, makanan sudah disiapkan tuannya atau sudah diarahkan ke lokasi yang banyak makanannya. Beda dengan binatang liar yang harus berjuang bertahan hidup dan mencari makan.

Seburuk itulah perumpamaan yang Allah berikan untuk manusia yang dikendalikan hawa Nafsunya, mereka jatuh kemuliaannya dihadapan Allah. Bukan sebagai mahluk terbaik lagi.

Mengobati hati dari dominasi Nafsu.

Imam Ibnul Qoyim, dalam karyanya Ighatsatul Lahafan (1/16 – 17) menjelaskan bahwa ada 3 teori pokok untuk mengobati sesuatu yang sakit. Teori ini juga digunakan dalam ilmu medis.

Dalam dunia medis, ketika seorang dokter hendak mengobati pasien, dia akan memberlakukan 3 hal:

Pertama, menjaga kekuatan. Ketika mengobati pasien, dokter akan menyarankan agar pasien banyak makan yang bergizi, banyak istirahat, tenangkan pikiran, tidak lupa, sang dokter juga memberikan multivitamin. Semua ini dilakukan dalam rangka menjaga kekuatan fisik pasien.

Ibnul Qoyim menjelaskan, orang yang sakit hati, salah satu upaya yang harus dia lakukan adalah menjaga kekuatan mentalnya, dengan ilmu yang bermanfaat dan melakukan berbagai ketaatan. Hatinya harus dipaksa untuk mendengarkan nasehat dan ilmu yang bersumber dari Al-Quran dan sunah, serta fisiknya dipaksa untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Karena ilmu dan amal, merupakan nutrisi bagi hati manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis riwayat Bukhari, memisalkan ilmu sebagaimana hujan dan hati manusia sebagaimana tanah. Karena hati senantiasa butuh nutrisi berupa ilmu.

Kedua, melindungi pasien dari munculnya penyakit yang baru atau sesuatu yang bisa memparah sakitnya.

Dalam mengobati pasien, tahapan lain yang dilakukan dokter adalah menyarankan pasien untuk menghindari berbagai pantangan sesuai jenis penyakit yang diderita pasien.

Hal yang sama juga berlaku untuk penyakit hati. Seperti yang dijelaskan Ibnul Qoyim, orang yang sakit harus menghindari segala yang bisa memperparah panyakit dalam hatinya, yaitu dengan menjauhi semua perbuatan dosa dan maksiat. Dia hindarkan dirinya dari segala bentuk penyimpangan. Karena dosa dan maksiat adalah sumber penyakit bagi hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bagaimana bahaya dosa bagi hati manusia,

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan perbuatan maksiat maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Jika dia meninggalkan maksiat itu, memohon ampun dan bertaubat, hatinya akan dibersihakn. Namun jika dia kembali maksiat, akan ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar-raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.’ (HR. Turmudzi, Ibnu Majah dan sanadnya dinilai kuat oleh Syuaib Al-Arnauth).

Ketiga, menghilangkan penyakit yang ada dalam dirinya

Tahapan terakhir, setelah dokter memastikan jenis penyakit yang diderita pasien, dokter akan memberikan obat untuk menyerang penyakit itu. Dokter akan memberinkan antibiotik dengan dosis yang sesuai, atau obat lainnya yang sesuai dengan penyakit pasien.

Di bagian akhir keterangannya untuk pembahasan ini, Ibnul Qoyim menjelaskan bahwa cara untuk menghilangkan penyakit yang merusak hati adalah dengan banyak bertaubat, beristighfar, memohon ampunan kepada Allah. Jika kesalahan itu harus ditutupi dengan membayar kaffarah maka dia siap membayarnya. Jika terkait dengan hak orang lain, diapun siap dengan meminta maaf kepadanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan,

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ، كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

Orang yang bertaubat dari satu perbuatan dosa, seperti orang yang tidak melakukan dosa itu. (HR. Ibn Majah).

Urgensi dan Kewajiban Berdakwah

Urgensi dan Kewajiban Berdakwah
By: Rudifillah el Karo






Ikhwani fillah rahimakumullah.
Ada fenomena yang buruk yang menghinggapi para aktivis dakwah kita saat ini. Fenomena itu adalah melemahnya semangat dakwah di berbagai lini dakwah. Bahkan banyak sekali mereka yang mengatakan dirinya aktivis dakwah, salesnya Allah dan penjuang kebangkitan islam, ketika diamanahkan suatu pekerjaan dakwah mereka berat menunaikannya.


Hal ini sebenarnya sudah terjadi bahkan sejak jaman Rasulullah masih hidup. Suatu hari a
da sesuatu yang aneh dirasakan Ka’ab bin Malik. Entah kenapa, sahabat yang begitu dekat dengan Rasul ini merasa enggan untuk segera berangkat bersama yang lain menuju Tabuk. Padahal, hampir tak seorang pun yang luput dari perang besar ini. Semuanya siap ikut. Paling tidak, memberikan sumbangan yang mereka ada. Ada apa dengan Ka’ab? Selama ini, hampir tak satu pun peluang jihad disia-siakan Ka’ab. Tapi di Tabuk ini, ia merasa kalau ladang gandumnya yang sedikit lagi panen benar-benar menyibukkannya. Ah, nanti saja. Nanti saja, akan saya kejar rombongan Rasul itu. Nanti, dan nanti. Akhirnya, Ka’ab benar-benar tertinggal hingga peperangan yang memakan waktu sekitar satu setengah bulan itu berakhir. Mungkin, bukan cuma Ka’ab yang sempat merasakan keanehan itu. Kita pun secara sedar atau tidak, pernah merasa ada sesuatu yang mengganjal. Semangat untuk aktif tiba-tiba mengendur. Dan keasyikan pun muncul saat diri cuma sebagai penonton. Sehingga dia lalai dari kewajibannya untuk berdakwah.
Ikhwafillah rahimakumullah, ada baiknnya jika kita ingatkan diri kita lagi mengenai apa itu dakwah. Mari kita mulai dari penjelasan mengenai dakwah itu sendiri.
Secara bahasa, dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja “da’a yad’u “ yang artinya “panggilan”, “seruan” atau “ajakan”. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa berdakwah adalah aktivitas menyeru manusia kepada Allah SWT dengan hikmahdan pelajaran yang baik dengan harapan agar objek dakwah yang kita dakwahi beriman kepada Allah SWT
dan mengingkari thagut
(semua yang di abdi selain Allah) sehingga mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.
Orang yang berdakwah disebut da'i (juru dakwah), sedangkan obyek dakwah disebut mad’u. Setiap dakwah hendaknya bertujuan untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridai oleh Allah.
Saudaraku semua yg kucintai karena Allah....
Bagaimanakah Al Quran menjelaskan tentang dakwah? 
✨Dalil Kewajiban Dakwah Muslim dan Muslimah diwajibkan untuk mendakwahkan Islam kepada orang lain, baik Muslim ataupun Non Muslim.
Ketentuan semacam ini didasarkan pada firman Allah swt :
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang
yang beruntung” (Al-Imran :104)
Dalam tafsirnya ibnu katsir menjelaskan bahwa mereka yang terbaik dari ummat islam itu adalah mereka-mereka yang berjuang dan berjalan diatas dakwah dan mengabdikan harta dan tenaganya untuk Allah.
✨Dalil yg lain:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang- orang yang fasik” (Al-Imran : 110)
✨” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang- orang yang mendapat petunjuk ” (An-Nahl : 125) .
✨” Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang- orang yang menyerah diri?” (Fushishilat : 33).
✨Dalam Hadits Rasulullah Saw disebutkan:
ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻋَﻤْﺮٍﻭ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻠِّﻐُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻲ ﻭَﻟَﻮْ ﺁﻳَﺔً

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” [HR. Bukhari]
“Siapa saja yang melihat kemungkaran hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Jika
dengan tangan tidak mampu, hendaklah ia ubah dengan lisannya;
dan jika dengan lisan tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya; dan ini adalah selemah-lemah iman.” [HR. Muslim]
Ikhwanifillah rahimakumullah,
Riwayat-riwayat di atas merupakan dalil yang shahih mengenai kewajiban dakwah atas setiap Mukmin dan Muslim. Bahkan, Allah swt mengancam siapa saja yang meninggalkan dakwah Islam, atau berdiam diri terhadap "kemaksiatan" dengan “tidak terkabulnya doa”. Bahkan, jika di dalam suatu masyarakat, tidak lagi ada orang yang mencegah kemungkaran, niscaya Allah akan mengadzab semua orang yang ada di masyarakat tersebut, baik ia ikut berbuat maksiat maupun tidak. Kenyataan ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa hukum dakwah adalah
wajib, bukan sunnah. Sebab, tuntutan untuk mengerjakan yang
terkandung di dalam nash-nash yang berbicara tentang dakwah datang dalam bentuk pasti.
Cukuplah kita sudah melihat begitu banyak bencana yang menimpa negara kita. Banjir, gunung meletus, tanah longsor, bahkan mungkin hadirnya pemimpin yang jahil merupakan bentuk adzab dari Allah karena masyarakat kita yang begitu jauh tersesat dan para aktivis dakwah enggan bergerak.
Indikasi yang menunjukkan bahwa tuntutan dakwah bersifat pasti adalah, adanya siksa bagi siapa saja yang meninggalkan dakwah. Ini menunjukkan, bahwa hukum dakwah adalah WAJIB.
Saudaraku semua,
Urgensi Dakwah
Pada dasarnya urgensi dakwah bagi kehidupan manusia telah digambarkan oleh Rasulullah saw dengan sangat indah (perumpamaan dlm hadits ini sudah sangat terkenal) di dalam sebuah haditsnya :

“Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan yang melanggarnya adalah
seperti kaum yang menumpang kapal. Sebagian dari mereka berada di bagian atas dan yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu mereka berkata: ‘Andai saja kami lubangi (kapal) pada bagian kami, tentu kami tidak akan menyakiti orang- orang yang berada di atas kami’. Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atas (padahal mereka tidak menghendaki), akan binasalah seluruhnya. Dan jika dikehendaki dari tangan mereka keselamatan,maka akan selamatlah semuanya”. (HR. Bukhari)

Kesimpulannya, Allah swt telah memerintahkan kepada umat Islam agar membentuk kelompok yang tugasnya dakwah kepada Islam, dan amar ma’ruf nahi ‘anil mungkar.
Oleh karena itu seorang Muslim wajib mengemban dakwah Islam sesuai dengan batas-batas yang telah ditetapkan oleh syariat.
Hari ini Allah amanahkan antm di dalam wadah dakwah ini. Maka genggam erat amanah ini, jangan lepaskan lagi. Karena bisa jadi ketika sedikit saja antm lalai menjaganya. Allah alihkan amanah ini ke orang laing yang Allah anggap lebih layak untuk memperoleh syurganya.

Mudah-mudahan wadah dakwah ini bisa menjadi wasilah untuk mencegah hadirnya bencana di negara ini, juga menjadi jalan agar kelak Allah pertemukan kita di syurgaNya.

Surat Cinta untuk Istriku.

Surat Cinta untuk Istriku.


By: Rudifillah el Karo.



Istriku...
Kutahu aku bukanlah lelaki yang Istimewa.
Bukan pula seorang lelaki dengan sejuta prestasi.
Namun, tahukah engkau??
Kelembutan hati dan tutur katamu membuatku merasa Istimewa.
Mendapatkan cintamu, membuatku menjadi lelaki paling berprestasi.
Engkaulah cahaya mata yang selalu menyejukkan hatiku..

Istriku...
Jika harus melukiskan apa itu syurga dunia.
Maka akan kulukiskan bahwa syurga itu adalah teduhnya hatimu.
Perhiasannya adalah akhlakmu yang terpatri dari rasa takut pada Rabbmu.
Dan pemandangan indahnya adalah do'amu yang terurai bercampur rindu.

Istriku...
Aku bersyukur atas pernikahan ini.
Karena telah bersandar sudah hati ini.
Karena doa-doa ini sudah ada empunya.
Karena tersambut sudah cinta dan kerinduan ini.

Istriku...
Jika nanti aku tertatih menjalani hidup ini.
Peganglah tanganku, bisikkan cinta di telingaku.
Agar aku tersadar dari kelemahan yang hadir.
Agar aku bangkit menjadi Lelaki yang tangguh.

Kemudian jika suatu saat nanti kita diuji Allah.
Tetaplah pegang tangan ini, raihlah pundak ini.
Karena aku akan menjagamu dengan sepenuh kekuatanku.
Kita akan raih sakinah itu di semua kondisi.

Dan kita akan bangun miniatur syurga di rumah tangga kita.
Agar kelak anak-anak kita tumbuh dengan penuh cinta.
Cinta yang akan menjadikan mereka Pejuang-pejuang Allah.
Teguh dalam barisan penjaga panji-panji Allah.

In syaa Allah bidadariku.
In syaa Allah kekasihku.
Semua akan kita jalani berbekal kemuliaan Akhlakmu.
Semua akan kita lalui sampai kita bertemu lagi di Rumah Kita sebenarnya.
Yaitu Syurga yang Allah siapkan untuk orang Beriman.
Aamin Allahumma Aamiin.

Medan, 15 mei 2015.
Pkl : 23:50 WIB
#DitulisSaatLemburKerjaDiKantor

Rabu, 06 Mei 2015

Ada CintaNya, di Balik Ujianmu!

Ada CintaNya, di Balik Ujianmu!
Oleh : Rudifillah El Karo





Saudaraku...
Pernahkah engkau merasakan penatnya hidup...
Ketika air mata tak sanggup lagi melukiskan bebanmu...
Ketika saudaramu tak lagi mampu jadi teman berbagi...
Seolah bumi tak lagi bersahabat dengan suasana hatimu...

Ingatlah saudaraku...
Saat itu Allah sedang menunjukkan cintaNya padamu.
Cinta yang pernah Allah letakkan pada Nabi Ibrahim saat mengujinya dengan api.
Cinta yang pernah Allah lukiskan di hati Nabi Ayyub dengan ujian penyakit
Cinta yang pernah Allah hujamkan pada Rasulullah Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ dengan ujian dari kaum kafir.
Cinta yang sama, yang pernah Allah tanamkan di hati para nabi melalui ujian.
Meski kadarnya tak sama, tapi itu adalah bagian dari Cinta Allah.

Saudaraku...
Allah bebankan masalah di pundakmu, agar engkau menunduk Sujud padaNya.
Allah teteskan kepedihan di qalbmu, agar air matamu mengalir mengingatNya.
Allah letakkan kesempitan dihatimu agar engkau mengingatNya, melapangkan hati.
Semua karena Allah mencintai Do'a dan sujudmu, memohon padaNya.

Saudaraku...
Bukankah mereka yang beriman pasti Allah uji ?
Sebagai pembuktian bahwa kita orang yang beriman.
Beriman pada Allah saat lapang dan sempit.
Lalu, pantaskah kita memohon syurga tanpa ujian ?
Ya, Orang beriman pasti mendapat ujian.

Saudaraku...
Jika hari ini pundakmu terlalu berat menahan masalahmu.
Saat itu, sajadah menunggumu untuk bermunajat.
Saat itu juga Allah sedang menantimu untuk memohon.
Memohon belas kasih dan cintaNya.
Karena setiap ujian adalah bentuk cintaNya.

PSDM DTI ODOJ.

Selasa, 05 Mei 2015

Memaafkan itu CINTA

By: Ummu Adib.


Selalu ada sisi berbeda dalam memandang suatu hal bagi insan dalam berukhuwah. Jangan khawatir saudariku sayang... Karena Rabb ciptakan dunia ini memang dengan keberagaman. Setiap diri sejatinya berusaha menyajikan yang terbaik dengan sisi pemikirannya.

Saudari syurgaku...
Saat berbeda sisi, jangan menjadikan qalb diri menjadi penuh noda dengan titik-titik kebencian.

Tahukah saudariku sayang...
Sesungguhnya hidup dalam amarah dan fikiran buruk tentang insan lain sangat lelah dan merugi. Memendam fikiran buruk dan sakit hati terus menerus sejatinya serupa seperti diri meminum racun... Namun berharap insan lain yang sakit. Sungguh hal yang sia-sia.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. ”
[QS. Fushilat: 34-35]

Ibnu Katsir ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ menerangkan: “Bila kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu maka kebaikan ini akan menggiring orang yang berlaku jahat tadi merapat denganmu, mencintaimu, dan condong kepadamu sehingga dia (akhirnya) menjadi temanmu yang dekat.

Ibnu ‘Abbas ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ mengatakan:
Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ memerintahkan orang beriman untuk bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat diperlakukan buruk. Bila mereka melakukan ini maka Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ menjaga mereka dari (tipu daya) setan dan musuh pun tunduk kepadanya sehingga menjadi teman yang dekat’ .”
[Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 4/109]

Bila diri beriman dengan kesungguhan kepada qadha' dan qadar, maka sudah sepatutnya diri lapang. Dengan memaafkan, diri belajar merelakan. Merelakan bahwa apa yang terjadi pada diri adalah bagian dari takdir Rabb. Dan tidaklah Rabb menggariskan sesuatu, melainkan memiliki hikmah di baliknya. Mereka hanya pemeran dari takdir kehidupan seperti diri kita.

Forgiveness is not something we do for other people.
We do it for ourselves, to get well and move on.

Memaafkan itu CINTA. Cinta kepada diri, juga Cinta kepada saudari kita karena Rabb.

#Semangat Tilawah
#Semangat Menjadi Pribadi Indah

-ummu adib-

Tabayyun.


Tabayyun

By: Rudifillah el Karo


Saudaraku...
Maukah engkau ku tunjukkan satu cara memuliakanku?
Sebagai tanda cintamu kepadaku karena Allah.
Agar aku jauh dari musibah fitnah di muka bumi ini.
Juga untuk menjaga kemuliaanmu di hadapan Allah dan ummat manusia.
Yaitu; jika ada berita tentangku... Tabayyunlah...

Sungguh, sifat tabayyun itu hanya Allah letakkan di hati ORANG BERIMAN.
Orang yang berhati-hati dalam menjaga diri dan saudaranya.
Orang yang tidak ingin ada musibah yang menimpa diri dan saudaranya.
Karena dia tahu setiap PRASANGKA adalah BERITA PALING DUSTA.

"Karena sesungguhnya prasangka adalah berita yang paling dusta." (HR Al-Bukhari dan Muslim)

“Jauhilah kalian dari kebanyakan prasangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa” (QS al-Hujuraat: 12)

Saudaraku...
Bukankah Rasulullah pernah mengajarkan kepada kita tentang menjaga diri dari buruknya prasangka.
Bahwa jika prasangka itu benar maka ia adalah ghibah dan jika tidak maka ia adalah fitnah.
Maka jangan pernah jerumuskan dirimu dalam perkara ini, apalagi itu tentangku.
Sebagai bukti bahwa engkau memuliakanku karena Allah.

Jika nanti kita bertemu di akhirat...
Aku ingin bertemu denganmu sebagai saudara yang saling menjaga kehormatan.
Sebagai golongan yang bertabayyun karena cinta.
Sebagai kaum yang menjaga lidah dari fitnah dan ghibah.
Sebagai orang yang saling mencari udzur bagi saudaranya.

Saudaraku...
Mari saling menjaga dengan bertabayyun.

Divisi Tarqiyah Imaniyah PSDM ODOJ
DTI/32/04/05/2015
oaseodoj@gmail.com