Rabu, 12 Agustus 2015

Istriku, Ajari Aku Agar Sempurna Mencitaimu.

Istriku, Ajari Aku Agar Sempurna Mencintaimu.
By: Rudifillah El Karo




Istriku, Semua lelaki pasti menginginkan wanita terbaik dalam hidupnya.
Yang akan menghiasi setiap detik kehidupannya dengan warna-warna surgawi.
Yang akan membawa anak-anaknya kedalam samudra ketaatan RabbNya.
Semua lelaki akan mencari wanita itu, karena ia layak untuk diperjuangkan.

Istriku, tahukah engkau sejak kapan aku meyakini itu ada dalam dirimu?
Yaitu disaat aku melihat kerlingan matamu di saat pertama kita dipertemukan dalam majelis ta'aruf yang mulia.
Saat itu ketundukan pandanganmu menghapus keraguanku untuk tidak meminangmu,.
Tutur kata dan idealismemu saat itu menunjukkan ketaatanmu pada Rabbmu..
Hingga aku pun memohonkan pada Allah agar Allah menjaga ketaatamu itu sampai akhirat kelak.

Beberapa tahun telah bertalu, dan tanganmu telah mencetak generasi kita.
Generasi yang akan menjadi pewaris kita, yang akan mendoakan kita saat kita sudah tiada di dunia.
Maka, didiklah mereka dengan kesabaran dan kasih sayangmu.
Ajari mereka agar tunduk pada Rabb mereka, hingga Allah pun akan mencintai kita.

Istriku, ajari aku agar sempurna mencintaimu..
Agar aku menerima semua kekurangan dan kelebihanmu.
Agar luruh semua tabiat burukku, agar semakin kuat ketaatanku pada Rabbku.
Agar aku dapat terus menabung benih cinta untukmu, benih cinta yang akan kita panen di Syurga-Nya Allah.
Ajari aku, karena aku ingin cintaku padamu semata-mata karena cintaku pada Rabbku.

Istriku, jika kelak aku khilaf dalam menamkan besaran cinta padamu.
Maka ingatkanlah aku, karena aku tidak ingin cintaku padamu melabihi cintaku pada Rabbku.
Agar apa yang kita tanam ini mendapatkan ridho dari Allah..
Sungguh, Allah akan sangat murka padaku jika aku salah membagi cinta pada-Nya.

Istriku, Cinta yang sempurna adalah yang saling melangkapi dan menutupi kekurangan.
Ajari aku agar mendapatkannya darimu, dari semua keteladananmu dan kesabaranmu.
Keteladananmu dalam membantuku mengelola rumah tangga kita.
Dan kesabaranmu dalam menghadapi kekuranganku..
Istriku, ajari aku... Aku ingin sempurna mencintaimu..

for My Lovely Wife..

Senin, 10 Agustus 2015

Aku BENCI ODOJ!!


Aku BENCI ODOJ!!
By: Rudifillah El Karo


Aku BENCI ODOJ!!
Dulu sebelum masuk ODOJ tilawahku tidaklah rutin, aku tilawah hanya jika ada waktu senggang.
Kemudian ODOJ memaksaku, memutaba'ah tilawahku setiap hari.
Dengan agak terpaksa aku menyelesaikan tilawahku, berusaha menyelesaikan 1 Juz perhari sembari meluruskan niatku karena Allah.
Aku tidak mau tilawahku karena setoran ke ODOJ, namun karena Allah, karena aku BENCI ODOJ..

Aku juga benci pada Admin, PJ Harian dan Pengurus ODOJ..
Karena mereka tidak mau berhenti mengingatkanku untuk menyelesaikan tilawahku.
Mereka tidak peduli apakah aku sedang bekerja, dalam perjalanan atau sedang rapat, mereka selalu menanyakan progress tilawah.
Seolah mereka ini atasanku yang selalu menanyakan progress pekerjaanku, apa mereka tidak ada kerjaan lain??
Mereka begitu kuat menarikku dalam lingkungan yang membumikan Al Qur'an..

Yang lebih mengesalkan dari ODOJ adalah memaksaku memperbaiki tilawahku..
Kegiatan tilawah sehari satu juz ini membuatku harus selalu berhati-hati dalam membaca Al Qur'an.
Dari mulutku yang kelu membaca Al Qur'an hingga harus lancar menempatkan makharijul huruf.
Dari pengetahuanku yang minim mengenai sifatul dan ahkamul huruf hingga harus benar-benar memahaminya.
Aku benci dipaksa, aku ingin mempelajarinya disaat aku tidak sibuk nanti, karena itu aku BENCI ODOJ.

Sejak begabung dengan ODOJ, lingkungannya yang islami memaksaku harus memperbaiki tutur kataku.
Juga membuatku merasa kecil diantara orang-orang alim.
Membuatku tidak bisa berbangga lagi dengan diri ini, karena sadar akan kefakiran ilmu yang aku miliki.
Aku tidak bisa berbangga lagi dengan prestasiku, karena dimata Allah aku belum berprestasi sama sekali.

Aku ingin TINGGALKAN ODOJ..
Tapi aku tidak mampu karena ODOJ telah mengubahku, mencuci otakku..
Begabung dengan ODOJ membuatku tidak terbiasa dengan kegiatanku dulu yang jauh dari Al Qur'an.
ODOJ menghipnotisku, membuatku tidak bisa jauh-jauh dari orang-orang yang mencintai Al Qur'an..
Orang-orang yang sepenuh cinta mereka membumikan Al Qur'an..
Aku BENCI ODOJ, namun kebencianku ternyata membuatku mencintai ODOJ..
ODOJ, Engkau membuatku galau..


Jangan Nikahi Khayalanmu!

Jangan Nikahi Khayalanmu!
By: Rudyfillah el Karo



Pernah suatu hari seorang ikhwan mendatangi saya, beliau berkata "Sebulan lagi saya akan menikah, tapi saya belum berani menumbuhkan perasaan cinta di dalam hati saya, bahkan saya masih ketakutan dengan niat penikahan saya. apakah saya salah?"

Mendengar pertanyaan unik ini, saya mengernyitkan dahi. Setahu saya lelaki ini adalah orang yang sangat menjaga amalannya, menjaga kehormatan dirinya dan hijabnya dengan akhwat yang berinteraksi dengannya. Saya merasa aneh, mengapa bliau belum berani menumbuhkan cinta pada wanita yang sudah dita'arufkan dengannya dan sudah disetujui untuk dinikahi. Bahkan tinggal menunggu hari.

Saya balik bertanya : "Kenapa antum bicara demikian akhi?"

Jawab beliau : "Aku mendengar dari sahabat-sahabatnya tentang calon istri saya, mereka berkata kalau si akhwat ini adalah wanita yang rajin ibadahnya, terjaga hijabnya, Tilawah minimal 1 Juz sehari, bicaranya sopan, dan pandai merawat diri dan Rumah tangga."

Saya semakin bingung dengan jawaban bliau..
"Bukankah itu ciri wanita idaman akhi?, kenapa antm tidak berani mencintainya?"

Jawab beliau : "Saya takut kalau saya Menikah dengan angan-angan saya, Mecincintai orang yang sudah saya lukiskan sebagai wanita sempurna dalam berkeluarga, namun ketika saya menikah dan ternyata dia tidak sebaik itu, akhirnya saya kecewa dan cinta saya kandas di tengah jalan"

Saya tersenyum mendengar jawaban bliau, seraya berkata. "Mohonlah perlindungan dari Allah, minta agar dikaruniakan Cinta yang tulus dan hanya karena kecintaan padaNya".

Dalam beberapa kasus, banyak orang yang ketika hendak menikah memberikan standar terlalu tinggi pada calon pasangannya. Dengan asumsi menikahi seorang perempuan berjilbab syar'i atau aktivis dakwah berarti urusan rumah tangga jadi beres. Mestinya istri itu bisa masak, terampil mengurus rumah, ibadahnya oke, pintar melayani suami, sabar, rajin, lembut, nyambung diajak diskusi, pandai ngambil hati mertua. Sehingga akhirnya ketika pasasangannya tidak pandai masak atau sejenisnya dia menjadi kecewa berat. Ini adalah Idealisme yang perlu diperbaiki.

Memiliki Idealisme dalam memilih pasangan hidup itu sah-sah saja. Dengan membuat standart calon pasangan hidup. Namun, jangan sampai itu menjadi racun dalam diri kita, jadikanlah itu sebagai motivasi dalam memperbaiki diri. Dengan keyakinan Allah akan hadiahkan pasangan terbaik jika diri kita baik dalam menghambakan diri pada Allah.

Idealisme terbaik adalah idealisme yang diperjuangkan dengan memperbaiki diri terlebih dahulu, dilanjutkan dengan memperbaiki pasangan kelak dan orang-orang terdekat kita. Firman Allah SWT dalam Surat An-Nisaa' ayat 123:

"Pahala dari Allah itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak pula menurut angan-angan ahli kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi balasan dengan kejahatan itu dan dia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain Allah."

Rumah tangga bahagia yang bernuansa syurgawi adalah impian setiap manusia. Namun, dia akan tetap menjadi mimpi dan angan-angan jika tanpa perjuangan untuk memperolehnya, baik perjuangan dari pihak lelaki maupun perempuan. Karena sejatinya cinta itu adalah tentang bagaimana kita menjadikan Pasangan Hidup kita menjadi yang paling sempurna di dunia dan akhirat.

Karena rumah tangga yang sakinah itu ada karena dibangun bukan diperoleh tanpa kerja keras. Setiap insan mempunyai hati yang berbeda sebaik apapun amalannya, maka diperlukan penyesuaian dalam membangun keluarga yang syurgawi.

Ingatlah selalu bahwa kita menikahi pasangan kita dengan segala apa yang ada pada dirinya berupa kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya untuk disyukuri, kekurangannya menjadi ladang jihad kita untuk memperbaikinya karena Allah. Dengan begitu kita tidak akan mudah kecewa terhadap segala kekurangan yang terdapat pada pasangan kita.

Pasangan yang berpredikat  terbaik adalah yang memuliakan pasangan. Yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah pasangannya. Suami menjadi qawwam istrinya. Suami tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Dan Istri menjadi penawar dalam semua kelelahan suaminya. Mengingatkannya ketika salah.

Pasangan yang berpredikat  terbaik bukanlah yang banyak menuntut dari pasangannya, memintanya harus sesuai dengan angan-angan dan Idealisme yang dia bawa sejak lajang.

Wallahu'alam,..


Sabtu, 01 Agustus 2015

Kematian dan Persiapan Menghadapi Hari Akhir



HIDUP DAN MATI

Apa perbedaan mati dan hidup?

Orang mati tidak lagi makan, minum, mendengar, mengenal, berfikir, tidakmerasa apa yang ada menurut pandanan kita, tidak berkembang, tidak bernafas, tidak menikah, tidak melahirkan anak. Sebaliknya orang hidup.
Maka renungkanlah dengan baik. Bagaimana makanan yang mati dan beku itu berubah menjadi kehidupan. Terjadi setiap hari di tubuh kita. Perhatikan tanganmu yang dahulu kecil, kemudian dengan makanan yang sudah mati itu semakin bertambah besar, sehinggga menjadi tangan yang hidup. Lalu bandingkan dengan tangan mayit, yag dahulu aktif dan hidup, tiba-tiba menjadi kaku dan mati.
Maka siapakah yang memberikan kehidupan pada benda-benda mati? Dan siapakah yang memutuskan kematian pada makhluk hidup?
Berhala-berhala mati, tidak memiliki kematian atau kehidupan.
Alam mati, tidak memiliki kematian dan kehidupan, akal atau pengelolaan.
Sesungguhnya semua yang hidup akan dipaksa mati. Dia harus mati. Karena kematian dan kehidupan tidak ada di tangannya, akan tetapi ada di tangan Allah. Pemilik segala sesuatu. Melakukan apa yang diinginkan. Firman Allah:

“Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, dia menghidupkan dan mematikan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Hadidi: 2)


“Dan dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Al-Mukminun: 80).


MATI SETELAH HIDUP

Mengapa kita mati?

Sesungguhnya hanya Allah yang menghidupkan kita dan mematikan kita. Allah swt telah memberitahukan kepada kita bahwa hikmah dari kematian adalah perpindahan dari darul amal (rumah kerja) menuju darul jaza’ (rumah balasan), setiap orang mendapatkan balasan dari apa yang pernah dikerjakan. Firman Allah:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

TIDAK ADA TEMPAT BERLARI DARINYA

Adakah tempat berlari dari kematian?

Aneh sekali orang yang tidak meyakini kematian, padahal ia menyaksikan orang-orang mati. Kematian itu tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mengingkarinya. Akan tetapi banyak orang yang menolak dirinya mengenang kematian itu, bersiap menghadapi pasca kematian. Mereka berlari dari mengingatnya padahal mereka akan menemuinya, menjauhkan diri darinya padahal kematian itu mendatanginya. Firman Allah:

“Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan." (Al-Jumu’ah: 8)

KEPUTUSAN YANG DITUNDA

Apakah kematian itu ada di tangan manusia?

Jawabannya jelas. Sesungguhnya hidup itu tidak ada di tangan manusia, jika tidak demikian maka setiap orang yang mati akan menghidupkan dirinya sendiri. Demikian juga kematian tidak ada di tangan manusia. Jika ada di tangan manusia maka tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mati.

Lalu ada di tangan siapa?
Kematian ada di tangan Yang telah menghidupkan dan menciptakan manusia. Di tangan Allah swt. Anda akan melihat ketentuan umum yang berlaku pada sunnatul maut wal hayat (mati dan hidup). Pada waktu kurang dari seratus tahun kita umumnya sudah mati, sebagaimana sebelum seratus tahun yang lalu kita belum ada di dunia. Demikianlah orang-orang sebelum kita, meski dengan perbedaan umur dan bilangan tahun....

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila Telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”  (Al-A’raf: 34)

Masing-maing kita akan hidup terbatas, ditentukan dengan ilmu Allah swt. Dan peran kita di dunia ini juga sudah jelas sesuai dengan ketentuan umum. Masing-masing kita memiliki ajal terbatas. Jika telah datang tidak bisa ditunda. Betapa banyak orang yang dalam keadaan sehat wal afiat, dengan mendadak berpindah ke sisi Rabbnya. Ditunjukkan kepadanya sebab yang paling kecil, bagi kematiannya. Firman Allah:

“Sesungguhnya ketetapan Allah apabila Telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui." (Nuh: 4)

Sebaliknya betapa banyak orang yang mengalami sakit yang sangat berbahaya, mengalami luka yang berat, atau tercabik-cabik oleh senjata perang, atau penyakit berat lainnya. Betapa banyak orang yang menghadapi serangan tepat dan mematikan, atau situasi yang membinasakan, akan tetapi mereka tetap hidup, tidak mati. Hal ini karena ajalnya belum sampai. Firman Allah:

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya.” (Ali Imran: 145)

KEADAAN MUKMIN DAN KAFIR KETIKA MATI

Bagaimana keadaan mukmin dan kafir ketika mati?

Rasulullah saw bersabda: “Orang mukmin ketika  datang kematiannya –ia didatangi al basyir (pembawa kabar gembira) dari Allah, maka tidak ada yang paling menyenangkan bagi orang mukmin ini dibandingkan berjumpa dengan Allah. Maka Allah akan senang menemuinya. Sesungguhnya orang fajir (pecandu dosa) atau orang kafir jika menghadapai kematian, akan datang padanya keburukan yang pernah diperbuatnya, atau menemui keburukan-keburukan lain. Sehingga ia enggan berjumpa dengan Allah, dan Allah enggan menemuinya.

Ketika orang beriman menghadapi kematian akan turun Malaikat rahmat yang menenangkannya, memberikan kabar gembira ridha Allah, Allah bukakan baginya pintu-pintu surga. Ia melihat nikmat dan kemewahannya, sehingga lapang dadanya dan senang berjumpa dengan Rabbnya. Firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (Fushshilat: 30-31)

Sedangkan orang yang enggan, maka mereka tersiksa dengan kematiannya, dan dipaksa menemui Rabbnya. Firman Allah:


“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar", (tentulah kamu akan merasa ngeri).” (Al-Anfal: 50)

DATANG MENDADAK

Ada diantara orang yang berkata: “Nanti saya akan bertaubat”

Orang yang belum tepat Islamnya, orang yang belum tepat memahami kematian. Apakah pernah ada kesepakatan dengan kematian, sehingga ia tidak mati kecuali setelah bertaubat? Apakah ada seseorang di muka bumi ini meyakini dengan pasti bahwa ia akan hidup sampai esok hari? Atau orang yang mengatakan demikian telah membuat janji demikian di hadapan Allah. Firman Allah:

“Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok . dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

Demikianlah kematian ada di tangan Allah. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan kematian itu akan datang menghampirinya. Maka orang yang berfikir akan bersegera mengerjakan amal shalih sebelum kematian mendahuluinya

Ghozuwul Fikri

Ghozuwul Fikri

disusun : Rudifillah El Karo



Dewasa ini Ummat Islam telah dihadapkan dengan banyak sekali tantanggan dan Ujian, jalan untuk mencari kebenaran yang hakiki semakin tersamarkan, antara yang Haq dan yang Bathil mulai bias. Ini merupakan salah satu hasil kerja dari pihak-pihak yang membenci Islam, melalu perang pemikiran yang mereka jalankan. atau dalam Islam disebut dengan Ghozuwul Fikri.

Ghazwul fikri, apakah itu? Ghazwul fikri, yang bermakna perang pemikiran, merupakan strategi perang selain perang fisik, face to face. Kenapa muncul strategi ini? Perang fisik tentu saja menguras SDM yang tidak sedikit, belum taruhannya nyawa. Ongkos perang fisik juga sangat mahal, disamping dampak kerusakannya yang luar biasa besar.

Ghazwul fikri, sasaran targetnya bisa dalam jumlah besar. Bahkan bisa mendunia kalau tujuannya memang globalisasi dilakukan dengan cara yang masif pula. Dampak ghazwul fikri juga bisa terasa oleh berbagai generasi (lebih dari satu generasi), dan mencakup berbagai lapisan masyarakat.

Beberapa contoh yang sudah kita lihat dalam masyarakat adalah jilbab bukan hijab lagi, melainkan fashion yang harus dipamerkan, Majelis Ulama Indonesia di diskreditkan dan fatwa2nya dituduh nyeleneh oleh Liberalis, Penyebaran rasa benci pada Poligami dan Jihad, dan banyak lagi.

Yang menjadi sasaran tentu saja adalah pola pikir, akhlak (perilaku), dan aqidah dari kaum muslimin. Apabila seseorang sering menerima paham sekuler, maka ia pun akan berpikir ala sekuler. Bila seseorang dicekoki dengan pola pikir komunis, materialis, liberalis, kapitalis atau yang lainya, maka merekapun akan cenderung berpikir dengan salah satu paham tersebut. Perang pemikiran dilahirkan dalam bentuk media-media baik cetak maupun elektronik. Dari sana pula timbul persaingan untuk saling memperkenalkan sesuatunya dan semakin banyak iklan maka semua orang akan melihat dan menjadikannya sebagai gaya hidup atau properti dalam menentukan jalan hidupnya.

Banyak pihak yang memusuhi kaum muslimin. Allah memberikan informasi kepada kita siapa saja musuh-musuh kaum muslimin. Ada beberapa kelompok besar manusia yang dalam perjalanan sejarah selalu mengibarkan bendera permusuhan dan perang terhadap kaum muslimin. Adapun kelompok-kelompok tersebut adalah:

1. Orang-Orang Yahudi dan Nashrani

"Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah rela terhadap kalian, sehingga kalian mengikuti jejak mereka..." (Al Baqarah [2] :120).

2. Orang-orang Musyrik

"Sesungguhnya telah kalian dapati orang-orang yang paling besar permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik...." (Al Maidah [5] :82).

3. Orang-orang Munafik

"Apabila orang-orang munafiq datang kepadamu, mereka berkata: 'Kami mengakui, bahwa kamu benar-benar Rasulullah'. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya', dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafiq itu benar-benar orang pendusta" (Al Munafiqun [63] : 1).

"Orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang yang ma'ruf dan menggenggam tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafiq itulah orang-orang yang fasik" (At Taubah [9]: 67).


Meskipun mereka (musuh-musuh Islam) itu nampaknya berbeda, tetapi sesungguhnya di dalam memerangi kaum muslimin mereka bersatu padu melakukan konspirasi (persekongkolan) yang berskala Internasional. Mereka berusaha tanpa mengenal lelah dan berputus asa.

Metode Yang Digunakan Dalam Ghazawul Fikri

1. Tasykik, yaitu menimbulkan keragu-raguan dan pendangkalan dalam jiwa kaum muslimin terhadap agamanya. Yang menjadi sasaran utama dalam metode ini adalah validitas sumber-sumber hukum islam, yaitu Al-quran dan Hadis. Berbagai teori bohong diungkapkan oleh para orientalis untuk menimbulkan keragu-raguan akan kebenaran wahyu Allah. Mereka menuduh bahwa isi Al-quran sudah tidak rasional agar kaum muslimin tidak lagi mengkajinya.        

2. Tasywih, yaitu pengaburan. Adalah upaya orang kafir untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap islam dengan cara menggambarkan islam secara buruk. Seringkali mereka menyematkan gelar seperti teroris, fundamentalis, ekstrimis, islam garis keras, dan lain-lain. Tentunya julukan tersebut tidak hanya sebagaihinaan semata bagi kaum muslimin, melainkan juga salah satu bentuk Tasywih agar kaum muslimin mulai tidak bangga terhadap agamanya sendiri.

3. Tadzwiib, yaitu pelarutan, pencampuradukan antara pemikiran dan budaya islam dengan pemikiran dan budaya jahiliyah. Tujuanya jelas yaitu agar tidak lagi ada jarak pemikiran dan budaya islam dengan pemikiran dan budaya kufur, sehingga orang islam tidak tahu lagi mana pemikiran dan budaya islam dan mana yang bukan.

4. Taghrib, atau pembaratan (westernisasi), yaitu mendorong kaum muslimin untuk menyenangi dan menerima pemikiran, kebudayaan dan gaya hidup orang-orang barat. Taghrib berusaha keras untuk mengeringkan nilai-nilai islam dari jiwa kaum muslimin dan mengisinya dengan nilai-nilai barat yang menyimpang.


Sarana Ghozuwul Fikri

1. Pers dan media informasi, dalam dunia modern, pers menempati posisi yang sangat penting, antara lain adalah dapat membentuk opini umat. Bahkan sering dikatakan bahwa barangsiapa yang menguasai pers, berarti dapat juga menguasai dunia. Kalau yang menguasai pers itu adalah orang mukmin, yang benar-benar paham dengan dakwah dan memang merupakan Da'i, maka pers yang diterbitkanya tentu tidak akan menurunkan tulisan-tulisan yang merugikan islam, memojokkan kaum muslimin atau menyakiti umat Nabi Muhammad SAW. Tetapi kenyataan yang membuktikan, di dunia ini tak sedikit pers yang menurunkan aneka bentuk tulisan yang substansi isinya bukan hanya memojokkan islam, menyakiti hati kaum mukmin, menghina Nabi serta melecehkan Al-quran, tetapi lebih dari sekedar itu. Musuh-musuh islam telah menggunakan media sebagai corong yang efektif untuk merontokkan keislaman kita. Dan keadaan bisa bertambah buruk lagi, kalau para pemimpin umat islam bukanya memihak islam, tapi justru memihak dan membela musuh-musuh Allah SWT. Na'udzu biillah min dzaalik!

Dalam banyak kasus kita temui Pers selalu menyudutkan ummat Islam, bahkan beberapa media melarang pegawainya mengenakan Jilbab. Ada juga yang menjadikan orang-orang Liberal sebagai narasumber mereka dalam membahas Islam, menyajikan diskusi dengan pemateri yang tidak proporsional, misalkan ummat Islam 1 dan penyerang islam 5 orang.

2. Pendidikan, melalui beasiswa pelajar di negeri barat, perlahan mereka menyimpangkan pandangan kita terhadap islam. Hingga saat ini sudah banyak mahasiswa yang diberi beasiswa kuliah di luar negeri dan ketika kembali sudah menjadi calon tokoh-tokoh kaum liberal. Banyak buku anak-anak yang sering kita temukan bermuatan hal-hal yang dilarang dalam Islam, Misalkan pacaran itu boleh, berpakaian seksi, dan lain-lain.

3. Hiburan & Olahraga, baik hiburan tradisional maupun modern, hingga reality show sudah mereka manfaatkan. Tidak hanya mendirikan cafe, bioskop, club, lokalisasi, namun juga memanfaatkan radio, televisi, Hp, internet, dan sebagainya. Selain itu mereka juga menyebutkan prestasi olahraga sebagai bentuk kepahlawanan yang pantas dibanggakan, padahal dibalik itu semua banyak perbuatan keji yang ditularkan kepada umat islam. Seperti judi, minuman keras, menampakkan aurat dan masih banyak lagi.

Lihatlah pembelaan mereka pada kaum homoseksual, LGBT, Pelacuran atau Lokalisasi, dan lain-lain. Bahkan banyak lagu yang memuji kerjaan Pelacuran seolah pahlawan. Termasuk pengaburan nama-nama Pelacur menjadi Tunasusila merupakan bentuk pengaburan bahwa pekerjaan itu adalah Terlaknat dihadapan Allah. Beberapa hiburan juga menampilkan pria berpakaian dan prilaku seperti wanita. padahal hal ini jelas dilarang oleh Allah.

Dalam sebuah hadits shahih dari ibnu Abbas Radhiallaahu anhu dia berkata: ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang berpenampilan seperti laki-laki (HR. Al-Bukhari).

4. Yayasan & LSM, dibungkus dalam kemasan islamiseperti bantuan sosial, padahal dibalik itu mereka menawarkan pertukaran harta dengan agama mereka hingga akhirnya masyarakat-masyarakat lemah harta (mustad'afin) menjadi korban pemurtadan.


Dampak Dari Ghozuwul Fikri

1. Perusakan Akhlak, diberbagai media massa, musuh-musuh islam melancarkan program-program yang bertujuan merusak akhlak generasi muslim mulai dari anak-anak, remaja, maupun dewasa. Diantara perusakan itu adalah lewat majalah, televisi, serta musik. Dalam media-media tersebut selalu saja disuguhkan penampilan tokoh-tokoh terkenal yang pola hidupnya jelas-jelas jauh dari islam. Mulai dari cara berpakaian, gaya hidup dan ucapan-ucapan yang mereka lontarkan. Dengan cara itu mereka telah berhasil membuat idola-idola baru yang membuat generasi islam berkiblat kepada mereka.

2. Melarutkan kepribadian islam, Akibat dari itu semua lahirlah generasi muslim yang tidak berkepribadian. Mereka menjadi tidak percaya diri untuk menampakkan identitas keislamanya. Nama-nama, model pakaian, bahasa, gaya hidup, pola pikir, semuanya mereka ganti dengan kebudayaan impor dari barat. Bahkan sebagian mereka mengatakan apabila kita ingin maju maka kita harus menjiplak barat seutuhnya.                                                                                                              "Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)..." (QS. An-Nisa [4] : 89)

3. Pemurtadan, ini adalah program utama dan yang paling jelas dari ghazwul fikri. Setelah hilang semangat keislamanya dan dilanjutkan tumbuhnya kekaguman akan peradaban barat yang semu, maka tahapan selanjutnya adalah menggiring hati kaum muslimin untuk keluar dari agamanya.                                                                                                                                                                        "Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian hingga kalian murtad dari agama kalian jika mereka mampu." (QS. Al-Baqarah : 217)


Bagaimana cara menangkal Ghozuwul Fikri? Banyak cara untuk menangkal dan ‘memukul balik’ Ghozuwul Fikri ini, diantaranya:

1. Mencari alternatif pendidikan, pemikiran, ekonomi, dst, yg sesuai dg ajaran Islam
2. Memberi pengetahuan ttg Ghozuwul Fikri, sehingga umat Islam tidak terkecoh
3. Para penulis Muslim perlu melakukan counter (serangan balik) terhadap tulisan2 yg menyerang Islam. Salah satu penulis yg cukup getol melakukan counter adalah Adian Husaini, beberapa artikelnya pernah aku muat di sini.
4. Mengingatkan lembaga pendidikan + lembaga dakwah Islam agar mewaspadai terhadap pemikiran yg sesat
5. (bagi yg merasa ilmunya tidak cukup memadai) Menjauhi pengaruh GF. Bagi yg ilmunya dirasa mumpuni, justru HARUS banyak mengenal GF, agar bisa melakukan counter (lihat poin 3).

Umat Islam sendiri hendaknya:

1. Hanya mengerjakan yg bermanfaat (dunia-akhirat)
2. Mencoba kembali kepada Allah SWT (apabila tertimpa musibah, dst)
3. Jangan minder. Yakinlah bahwa kita setara dg orang2 barat…tapi tentunya tidak sekedar ucapan belaka
4. Jika ada musibah, jangan cari kambing hitam…tapi hendaklah berserah pada Allah SWT. Pandang optimis ke masa depan, jangan terpaku ke masa lalu.

Minggu, 26 Juli 2015

Orang yang Bermaksiat Kala Sepi

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Ada seseorang yang ketika di hadapan orang banyak terlihat alim dan shalih. Namun kala sendirian, saat sepi, ia menjadi orang yang menerjang larangan Allah.
Inilah yang dapat dilihat dari para penggiat dunia maya. Ketika di keramaian atau dari komentar ia di dunia maya, ia bisa berlaku sebagai seorang alim dan shalih. Namun bukan berarti ketika dalam kesepian, ia seperti itu pula. Ketika sendirian browsing internet, ia sering bermaksiat. Pandangan dan pendengarannya tidak bisa ia jaga.
Keadaan semacam itu telah disinggung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari. Dalam hadits dalam salah satu kitab sunan disebutkan,
عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا »
Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Majah membawakan hadits di atas dalam Bab “Mengingat Dosa”.
Hadits di atas semakna dengan ayat,
يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا
“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 108). Walaupun dalam ayat tidak disebutkan tentang hancurnya amalan.
Ada beberapa makna dari hadits Tsauban yang kami sebutkan di atas:
Pertama:

Hadits tersebut menunjukkan keadaan orang munafik, walaupun kemunafikan yang ia perbuat adalah kemunafikan dari sisi amal, bukan i’tiqad (keyakinan). Sedangkan hadits Abu Hurairah berikut dimaksudkan pada kaum muslimin.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi.” (HR. Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 2990)
Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan dalam Az-Zawajir ‘an Iqtiraf Al-Kabair (2: 764) mengenai dosa besar no. 356, “Termasuk dosa besar adalah dosa yang dilakukan oleh orang yang menampakkan keshalihan, lantas ia menerjang larangan Allah. Walau dosa yang diterjang adalah dosa kecil dan dilakukan di kesepian. Ada hadits dari Ibnu Majah dengan sanad berisi perawi tsiqah (kredibel) dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan …” Karena kebiasaan orang shalih adalah menampakkan lahiriyah. Kalau maksiat dilakukan oleh orang shalih walaupun sembunyi-sembunyi, tentu mudharatnya besar dan akan mengelabui kaum muslimin. Maksiat yang orang shalih terjang tersebut adalah tanda hilangnya ketakwaan dan rasa takutnya pada Allah.”
Kedua:

Yang dimaksud dalam hadits Tsauban dengan bersendirian dalam maksiat pada Allah tidak berarti maksiat tersebut dilakukan di rumah seorang diri, tanpa ada yang melihat. Bahkan boleh jadi maksiat tersebut dilakukan dengan jama’ahnya atau orang yang setipe dengannya.
Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa yang dimaksud dalam hadits bukanlah melakukan maksiat sembunyi-sembunyi. Namun ketika ada kesempatan baginya untuk bermaksiat, ia menerjangnya. (Silsilah Al-Huda wa An-Nuur no. 226)
Ketiga:

Makna hadits Tsauban adalah bagi orang yang menghalalkan dosa atau menganggap remeh dosa tersebut.
Syaikh Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi berkata, ada orang yang melakukan maksiat sembunyi-sembunyi namun penuh penyesalan. Orang tersebut bukanlah orang yang merobek tabir untuk menerjang yang haram. Karena asalnya orang semacam itu mengagungkan syari’at Allah. Namun ia terkalahkan dengan syahwatnya. Adapun yang bermaksiat lainnya, ia melakukan maksiat dalam keadaan berani (menganggap remeh dosa, pen.). Itulah yang membuat amalannya terhapus. (Syarh Zaad Al-Mustaqni’, no pelajaran 332)
Semoga kita dapat menjauhi dosa dan maksiat di kala sepi dan kala terang-terangan. Jadikan, nasihat ini terutama untuk setiap diri kita pribadi.

Referensi utama: http://islamqa.info/ar/134636
Jul 25, 2015Muhammad Abduh Tuasikal, MScManajemen Qolbu1 Komentar
Ada seseorang yang ketika di hadapan orang banyak terlihat alim dan shalih. Namun kala sendirian, saat sepi, ia menjadi orang yang menerjang larangan Allah.
Inilah yang dapat dilihat dari para penggiat dunia maya. Ketika di keramaian atau dari komentar ia di dunia maya, ia bisa berlaku sebagai seorang alim dan shalih. Namun bukan berarti ketika dalam kesepian, ia seperti itu pula. Ketika sendirian browsing internet, ia sering bermaksiat. Pandangan dan pendengarannya tidak bisa ia jaga.
Keadaan semacam itu telah disinggung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari. Dalam hadits dalam salah satu kitab sunan disebutkan,
عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا »
Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Majah membawakan hadits di atas dalam Bab “Mengingat Dosa”.
Hadits di atas semakna dengan ayat,
يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا
“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 108). Walaupun dalam ayat tidak disebutkan tentang hancurnya amalan.
Ada beberapa makna dari hadits Tsauban yang kami sebutkan di atas:
Pertama:

Hadits tersebut menunjukkan keadaan orang munafik, walaupun kemunafikan yang ia perbuat adalah kemunafikan dari sisi amal, bukan i’tiqad (keyakinan). Sedangkan hadits Abu Hurairah berikut dimaksudkan pada kaum muslimin.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi.” (HR. Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 2990)
Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan dalam Az-Zawajir ‘an Iqtiraf Al-Kabair (2: 764) mengenai dosa besar no. 356, “Termasuk dosa besar adalah dosa yang dilakukan oleh orang yang menampakkan keshalihan, lantas ia menerjang larangan Allah. Walau dosa yang diterjang adalah dosa kecil dan dilakukan di kesepian. Ada hadits dari Ibnu Majah dengan sanad berisi perawi tsiqah (kredibel) dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan …” Karena kebiasaan orang shalih adalah menampakkan lahiriyah. Kalau maksiat dilakukan oleh orang shalih walaupun sembunyi-sembunyi, tentu mudharatnya besar dan akan mengelabui kaum muslimin. Maksiat yang orang shalih terjang tersebut adalah tanda hilangnya ketakwaan dan rasa takutnya pada Allah.”
Kedua:

Yang dimaksud dalam hadits Tsauban dengan bersendirian dalam maksiat pada Allah tidak berarti maksiat tersebut dilakukan di rumah seorang diri, tanpa ada yang melihat. Bahkan boleh jadi maksiat tersebut dilakukan dengan jama’ahnya atau orang yang setipe dengannya.
Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa yang dimaksud dalam hadits bukanlah melakukan maksiat sembunyi-sembunyi. Namun ketika ada kesempatan baginya untuk bermaksiat, ia menerjangnya. (Silsilah Al-Huda wa An-Nuur no. 226)
Ketiga:

Makna hadits Tsauban adalah bagi orang yang menghalalkan dosa atau menganggap remeh dosa tersebut.
Syaikh Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi berkata, ada orang yang melakukan maksiat sembunyi-sembunyi namun penuh penyesalan. Orang tersebut bukanlah orang yang merobek tabir untuk menerjang yang haram. Karena asalnya orang semacam itu mengagungkan syari’at Allah. Namun ia terkalahkan dengan syahwatnya. Adapun yang bermaksiat lainnya, ia melakukan maksiat dalam keadaan berani (menganggap remeh dosa, pen.). Itulah yang membuat amalannya terhapus. (Syarh Zaad Al-Mustaqni’, no pelajaran 332)
Semoga kita dapat menjauhi dosa dan maksiat di kala sepi dan kala terang-terangan. Jadikan, nasihat ini terutama untuk setiap diri kita pribadi.

Referensi utama: http://islamqa.info/ar/134636

Rabu, 01 Juli 2015

Tata Cara Sholat Sunnah Setelah Ijab Kabul (Nikah)

Tata Cara Sholat Sunnah Setelah Ijab Kabul (Nikah)



Sunnah selepas Ijab Qabul  Melakukan solat sunat 2 rakaat berjemaah suami dan isteri.
Cara untuk mengerjakannya ialah:
• Lafaz niatnya : “Usolli sunnata ba’dan nikahi rak’ataini lillahi Ta’ala”Allahu Akbar”: Sahaja aku solat sunat sesudah nikah dua rakaat kerana Allah Ta’ala”
• Rakaat pertama : Membaca surah Al-Faatihah dan surah Al-Kafiruun’
• Rakaat kedua : Membaca surah Al-Faatihah dan surah Al-Ikhlas
• Membaca doa berikut selepas salam:
“YA Allah, Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji-pujian bagi-Mu, seru sekalian alam. Ya Allah, aku bersykur kepada-Mu, telah selesai pernikahanku ini, kami memohon pada-Mu Ya Allah Engkau berkatilah pernikahan –ku ini. Engkau jadikanlah aku dan isteriku orang-orang yang soleh. Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, pada-Mulah kami memohon pertolongan. Engkau anugerahkanlah padaku isteri/suami yang soleh, Engkau berikanlah akan daku dan isteriku petunjuk dan hidayah agar kami sentiasa di dalam keredhaan-Mu dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus sepanjang hidup kami. Engkau berikanlah kami kekuatan untuk memimpin isteri dan anak-anak kami ke jalan yang Engkau redhai. Engkau mesrakanlah kami, bahagiakanlah kami sebagaimana Nabi Muhammad s.a.w dan Siti Khadijah, Nabi Yusuf dengan Zulaikha, Nabi Adam dan Hawa. Engkau anugerahkanlah padaku dan isteriku anak-anak yang ramai dan soleh. Engkau anugerahkanlah kami kesihatan dan kesejahteraan pada isteri/suami dan anak cucu kami sepanjang hayat kami dan sepanjang hayat mereka. Engkau peliharalah kami daripada perkara-perkara yang boleh merosak kemesraan dan kebahagiaan rumah tangga kami”
“Ya Allah ,Ya Rahman, Ya Rahim, Engkau anugerahkanlah kepada kami akan rezeki yang suci dan baik, lindungilah kami dari mendapat rezeki yang keji dan haram. Engkau jadikanlah aku, isteriku/suamiku dan anak-anak kami orang yang rajin mengerjakan solat dan bertaqwa. Engkau berikanlah petunjuk dan jalan sekiranya aku, isteri/suami dan anak-anak ku menyimpag ke jalan yang tidak Kau redhai. Engkau anugerahkanlah padaku, isteri/suami dan keturunan kami kekuatan dan keimanan untuk berbuat baik dan amal soleh sepanjang hayat kami. Engkau peliharalah kami, isteri/suami, anak-anak dan cucu-cucu kami dari sebarang mara bahaya,fitnah,dan malapetaka yang tidak diingini samaada yang lahir mahupun yang batin”
“Ya Allah,Engkau berkatilah umur kami, isteri/suami kami, anak-anak kami, cucu-cucu kami sehinggalah akhir hayat kami dan mereka. Engkau peliharalah kami, isteri/suami kami, anak-anak kami, cucu-cucu kami agar menjadi orang yang taat kepada-Mu Ya Allah, kepada kedua ibubapanya dan taat mengerjakan perintah-Mu dan taat dalam menjauhi larangan-Mu”
“Bahagiakanlah rumah tangga kami Ya Allah,(3 kali),
Engkau berkatilah rumahtangga kami Ya Allah (3 kali)”
Amin ya rabbal a'lamin...