Selasa, 30 Juni 2015

Untuk Lelah yang Hadir

Untuk Lelah yang Hadir


By: Rudifillah el Karo.



Kami tahu engkau pasti datang suatu waktu.
Menghampiri jiwa-jiwa kami yang berusaha menjaga amanah.
Meredupkan cahaya yang kami hidupkan dengan harapan mendapat syurga_Nya
Mencoba memenuhi pundak kami dengan keletihan.
Agar kami menyerah berjalan di jalan ini, jalan dakwah yang Allah ridhoi.

Namun, bagi kami sebenarnya kehadiranmu bukanlah masalah.
Karena kami yakin engkau adalah utusan Allah untuk menguji kami.
Mentarbiyah jiwa-jiwa kami agar menjadi Hamba Allah yang tangguh.
Menguji kami apakah tetap istiqomah menjalankan amanah kami.
Agar Rabb kami tahu, mana diantara kami yang layak mendapat kenikmatan akhirat.

Wahai Lelah yang bertamu,.
Jika harus jujur, kami akan berkata bahwa hadirmu adalah kegembiraan.
Kerena engkau kelak akan jadi hujjah kami di hadapan Allah.
Bahwa kami telah berbuat sesuatu untuk Agama Allah.
Meski yang kami perbuat belum seberapa, bahkan blm pantas untuk dianggap.
Namun dengan kehadiranmu, sudah cukup membuat kami merasa sudah berbuat.

Meski harus mengorbankan raga ini, tapi kami selalu berusaha mencarimu.
Menelisik setiap sudut amanah Allah, agar engkau mau hadir.
Bahkan jiwa dan harta kami akan kami sumbangkan untuk menhadirkanmu menemani kami di
jalan dakwah.
Sebagai perniagaan kami di hadapan Allah. Mudah-mudahkan Allah menerimanya.


Wahai lelah yang Hadir.
Jika hari ini fisik kami rapuh karenamu,
Jiwa kami terluka karena goresanmu.
Semangat kami luruh karena kehadiramu.
Kami akan bangkit lagi,bangkit untuk melawanmu.
Hingga kami mati, dan menghadap Allah sebagai pejuang yang mengalahkanmu.
Kemudian kami akan membawamu sebagai tawanan kami.
Lalu kami jadikan hujjah dihapan Allah, bahwa kami sudah berbuat untuk Agama ini.

Wallahu'alam..

Rabu, 24 Juni 2015

KALA KEMATIAN MENJELANG.

KALA KEMATIAN MENJELANG.
By : Rudifilah el Karo


Saudaraku…
Pernahkah kita membayangkan kalau diri kita sedang berada di atas ranjang kematian, apa yang kita perbuat kala itu? Sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh semua manusia yang masih hidup. Lalu bagaimanakah keadaan detik-detik terakhir dari nafas kita yang akan berlalu itu? Apakah kita termasuk orang yang senang untuk bertemu Allah, ataukah sebaliknya seperti budak yang melarikan diri dan takut bertemu tuannya karena kesalahan yang dilakukannya?

Belajar dari akhir kehidupan para salaf adalah sangat perlu bagi kita semua, mereka adalah orang-orang terdepan dari umat ini, para pemimpin dan ulama kaum muslimin. Sungguh mereka sangat takut kalau menghadap Allah dalam keadaan membawa dosa dan kemaksiatan.
Ketika Umar al Faruq menjelang ajal, beliau berkata kepada putranya Abdullah, "Letakkan pipiku di atas tanah”, namun Abdullah enggan untuk melakukan itu. Beliau berkata hingga untuk ketiga kalinya, "Letakkan pipiku di atas tanah, semoga Allah melihatku dalam keadaan demikian, kemudian Dia merahmatiku. "Diriwayatkan, bahwa beliau terus menangis sehingga pasir-pasir menempel di kedua mata beliau seraya mengatakan, "Celakalah Umar, celaka juga ibunya, jika Allah tidak memaafkannya."
Ketika Abu Hurairah sakit parah beliau menangis, lalu ditanya, "Apa yang membuat anda menangis? Beliau menjawab, "Saya menangis bukan karena dunia ini, namun saya mena-ngisi perjalanan setelah ini (dunia), bekalku yang sedikit, lalu saya akan menapaki tempat yang menanjak lagi amat luas, sementara saya tidak tahu akan dimasukkan ke neraka atau ke surga."
Utsman Radhiallaahu anhu berkata di akhir hayatnya, "Tidak ada ilah selain Engkau, Maha Suci Engkau ya Allah, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang berbuat aniaya. Ya Allah aku mohon pertolongan dalam seluruh urusanku, dan aku memohon kesabaran dalam menghadapi ujian yang menimpaku."
Ikhwafillah Rahimakumullah..
Perjalanan Ruh Setelah Kematian.
Di tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada ranting, beliau tusukkan ke tanah kemudian beliau menengadah ke langit lalu beliau menunduk. Beliau ulang tiga kali. Kemudian beliau bersabda,



Marilah kita simak beberapa pelajaran berharga dari mereka:

Aisyah Radhiallaahu anha menceritakan bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tatkala menjelang wafat disediakan untuk beliau satu wadah air, beliau memasukkan tangannya ke dalam air lalu mengusapkan ke wajahnya seraya bersabda, "La ilaha illallah, sesungguhnya di dalam kematian ada sakaratul maut." Kemudian beliau menengadahkan kedua tangan-nya lalu mengatakan, "Fir Rafiqil A'la" (Teman yang Tertinggi) lalu beliau wafat dan tangannya tergeletak lemas.

 Kini saatnya orang-orang yang tertidur untuk bangun dari tidurnya, sudah saatnya orang yang lalai sadar dari keterlenaannya, sebelum datang maut dengan membawa kegetiran dan kepahitan, sebelum tubuh berhenti bergerak dan sebelum nafas terputus. Mumpung belum memasuki perjalanan menuju alam kubur dan kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Dari Al-Barrak bin Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
Kami pernah mengiringi jenazah orang anshar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesampainya di kuburan, dan menunggu liang lahatnya dibenahi, Rasulullah duduk menghadap kiblat. Kamipun duduk di sekitar beliau dengan khusyu, seolah di kepala kami ada burung.

استعيذوا بالله من عذاب القبر، مرتين، أو ثلاثا، (ثم قال: اللهم إني أعوذ بك من عذاب القبر) (ثلاثا)

“Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur.” Beliau ulangi dua atau tiga kali. Kemudian beliau berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.” (tiga kali).

Kemudian beliau menceritakan proses perjalanan ruh mukmin dan kafir.

Sesungguhnya hamba yang beriman ketika hendak meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah malaikat dari langit, wajahnya putih, wajahnya seperti matahari. Mereka membawa kafan dari surga dan hanuth (minyak wangi) dari surga. Merekapun duduk di sekitar mayit sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut ‘alaihis salam. Dia duduk di samping kepalanya, dan mengatakan, ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan ridha-Nya.’ Keluarlah ruh itu dari jasad, sebagaimana tetesan air keluar dari mulut ceret, dan langsung dipegang malaikat maut. Para malaikat yang lain tidak meninggalkan walaupun sekejap, dan mereka langsung mengambilnya dari malaikat maut.

Mereka memberinya kafan dan hanuth itu. Keluarlah ruh itu dengan sangat wangi seperti bau parfum paling wangi yang pernah ada di bumi. Para malaikat inipun naik membawa ruh itu. Setiap kali ketemu dengan malaikat yang lain, mereka akan bertanya: ‘Ruh siapakah yang baik ini?’ Mereka menjawab, ‘Fulan bin Polan’ – dengan nama terbaik yang pernah dia gunakan di dunia –. Hingga sampai di langit dunia. Mereka minta agar pintu langit dibukakan, lalu dibukakan. Mereka naik menuju langit berikutnya, dan diikuti para malaikat langit dunia. Hingga sampai di langit ketujuh. Kemudian Allah berfirman, ‘Tulis catatan amal hamba-Ku di Illiyin.’

“Tahukah kamu Apakah ‘Illiyyin itu? (yaitu) kitab yang bertulis, Disaksikan oleh para malaikat”
“Kembalikan hamba-Ku ke bumi, karena dari bumi Aku ciptakan mereka, ke bumi Aku kembalikan mereka, dan dari bumi Aku bangkitkan mereka untuk kedua kalinya.” Maka dikembalikanlah ruhnya ke jasadnya. Kemudian mayit mendengar suara sandal orang yang mengantarkan jenazahnya sewaktu mereka pulang setelah pemakaman.

Kemudian datanglah dua malaikat yang keras gertakannya. (dalam riwayat lain: warnanya hitam biru) Lalu mereka menggertaknya, dan mendudukkan si mayit.

Mereka bertanya: ‘Siapa Rabmu?’ Si mukmin menjawab, ‘Rabku Allah.’ ‘Apa agamamu?’, tanya malaikat. ‘Agamaku islam’ jawab si mukmin. ‘Siapakah orang yang diutus di tengah kalian?’ Si Mukmin menjawab, ‘Dia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Sang malaikat bertanya lagi, ‘Bagaimana amalmu?’ Jawab Mukmin, ‘Saya membaca kitab Allah, saya mengimaninya dan membenarkannya.’

Pertanyaan malaikat: ‘Siapa Rabmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?’ Inilah ujian terakhir yang akan diterima seorang mukmin. Allah memberikan keteguhan bagi mukmin untuk menjawabnya, seperti firman-Nya,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat..” (QS. Ibrahim: 27)

Sehingga dia bisa menjawab: Rabku Allah, agamaku islam, Nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tiba-tiba ada suara dari atas, “Hambaku benar, bentangkan untuknya surga, beri pakaian surga, bukakan pintu surga untuknya.” Diapun mendapatkan angin surga dan wanginya surga, dan kuburannya diluaskan sejauh mata memandang.

Kemudian datanglah orang yang wajahnya sangat bagus, pakaiannya bagus, baunya wangi. Dia mengatakan, ‘Kabar gembira dengan sesuatu yang menyenangkanmu. Kabar gembira dengan ridha Allah dan surga nan penuh kenikmatan abadi. Inilah hari yang dulu kamu dijanjikan.’ Si mayit dengan keheranan bertanya, ‘Semoga Allah juga memberi kabar gembira untuk anda. Siapa anda, wajah anda mendatangkan kebaikan?’ Orang yang berwajah bagus ini menjawab, ‘Saya amal sholehmu.’ [suhnahallah.., amal shaleh yang menemani kita di kesepian, menemani kita di kuburan]

Kemudian dibukakan untuknya pintu surga dan pintu neraka. Ketika melihat ke neraka, disampaikan kepadanya: ‘Itulah tempatmu jika kamu bermaksiat kepada Allah. Dan Allah gantikan kamu dengan tempat yang itu.’ Kemudian si mayit menoleh ke arah surga.

Melihat janji surga, si mayit berdoa: ‘Wahai Rabku, segerakanlah kiamat, agar aku bisa berjumpa kembali ke keluarga dan hartaku.’ Lalu disampaikan kepadanya: ‘Tenanglah.’

Sementara hamba yang kafir, ketika hendak meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah para malaikat dari langit, yang bengis dan keras, wajahnya hitam, mereka membawa Masuh (kain yang tidak nyaman digunakan) dari neraka. Mereka duduk di sekitar mayit sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut, dan duduk di samping kepalanya. Dia memanggil, ‘Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju murka Allah.’

Ruhnya ketakutan, dan terpencar ke suluruh ujung tubuhnya. Lalu malaikat maut menariknya, sebagaimana gancu bercabang banyak ditarik dari wol yang basah. Sehingga membuat putus pembuluh darah dan ruang tulang. Dan langsung dipegang malaikat maut. Para malaikat yang lain tidak meninggalkan walaupun sekejap, dan mereka langsung mengambilnya dari malaikat maut. Kemudian diberi masuh yang mereka bawa. Ruh ini keluar dengan membawa bau yang sangat busuk, seperti busuknya bau bangkai yang pernah ada di muka bumi. Merekapun naik membawa ruh ini. Setiap kali mereka melewati malaikat, malaikat itupun bertanya, ‘Ruh siapah yang buruk ini?’ Mereka menjawab, ‘Fulan bin Fulan.’ – dengan nama yang paling buruk yang pernah dia gunakan ketika di dunia – hingga mereka sampai di langit dunia. Kemudian mereka minta dibukakan, namun tidak dibukakan. Ketika itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammembaca firman Allah,

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

(Orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya), tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. (QS. Al-A’raf: 40)

Kemudian Allah berfirman, ‘Tulis catatan amal hamba-Ku di Sijjin, di bumi yang paling dasar.’ Kemudian dikatakan, ‘Kembalikan hamba-Ku ke bumi, karena Aku telah menjanjikan bahwa dari bumi Aku ciptakan mereka, ke bumi Aku kembalikan mereka, dan dari bumi Aku bangkitkan mereka untuk kedua kalinya.’ Kemudian ruhnya dilempar hingga jatuh di jasadnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al-Haj: 31)

Kemudian ruhnya dikembalikan ke jasadnya, sehingga dia mendengar suara sandal orang mengiringi jenazahnya ketika pulang meninggalkan kuburan. Kemudian datanglah dua malaikat, gertakannya keras. Merekapun menggertak si mayit dan mendudukkannya. Mereka bertanya: ‘Siapa Rabmu?’ Si kafir menjawab, ‘hah..hah.. saya gak tahu.’ ‘Apa agamamu?’, tanya malaikat. ‘hah..hah.. saya gak tahu,’ jawab si kafir. ‘Siapakah orang yang diutus di tengah kalian?’ Si kafir tidak kuasa menyebut namannya. Lalu dia digertak: “Namanya Muhammad!!”, si kafir hanya bisa mengatakan, ‘hah..hah.. saya gak tahu. Saya cuma mendengar orang-orang bilang seperti itu.’ Diapun digertak lagi: “Kamu tidak tahu dan tidak mau tahu.” Tiba-tiba ada suara dari atas, “Hambaku dusta, bentangkan untuknya neraka, bukakan pintu neraka untuknya.”

Diapun mendapatkan panasnya neraka dan racun neraka. Kuburnya disempitkan hingga tulang-tulangnya berserakan. Lalu datanglah orang yang wajahnya sangat buruk, berbaju jelek, baunya seperti bangkai. Dia mengatakan: ‘Kabar buruk untukmu, inilah hari dimana dulu kau dijanjikan.’ Si mayit kafirpun menjawab, ‘Kabar buruk juga untukmu, siapa kamu? Wajahmu mendatangkan keburukan.’ Orang ini menjawab, ‘Saya amalmu yang buruk.’ – Allahul musta’an, amal buruk itu semakin menyesakkan pelakunya di lahatnya – kemudian dia diserahkan kepada makhluk yang buta, tuli, dan bisu. Dia membawa pentungan! Andaikan dipukulkan ke gunung, niscaya akan jadi debu. Kemudian benda itu dipukulkan ke mayit kafir, dan dia menjadi debu. Lalu Allah kembalikan seperti semula, dan diapun memukulnya lagi. Dia berteriak sangat keras, bisa didengar oleh semua makhluk, kecuali jin dan manusia. Lalu dibukakan untuknya neraka dan disiampkan tempatnya di neraka. Diapun memohon: ‘Ya rab, jangan Engkau tegakkan kiamat.’

Hadis ini diriwayatkan Ahmad 18543, Abu Daud 4753, Syuaib Al-Arnauth menyatakan, Sanadnya shahih. Al-Albani menyatakan hadis ini hadis yang shahih.

Selasa, 16 Juni 2015

Jangan Pernah Bertanya, "Mengapa aku Harus Berdakwah?"

Jangan Pernah Bertanya, "Mengapa aku Harus Berdakwah?"
By: Rudifillah el Karo



Saudaraku..
Ketika para Algojo kemaksiatan menebar perangkapnya di bumi Allah.
Menghujam mata hati mereka yang jauh dari sentuhan dakwah.
Menjadikan mereka yang beriman memusuhi agamanya sendiri.
Adakah keperihan dihatimu menyaksikannya??

Saudaraku...
Jangan pernah bertanya, "mengapa aku harus berdakwah?"
Bila amalanmu belum bisa membawamu menjadi penghuni syurgaNya.
Bila dosa dan maksiat yang pernah engkau kerjakan masih menyelimuti tubuhmu.
Agar kelak engkau dipulangkan Allah dengan titel sebagai Pejuang Dakwah

Jangan pernah bertanya, "mengapa aku harus berdakwah?"
Ketika dalam lelapmu, pekerja kemaksiatan masih bekerja menebar murka Rabb-mu
Ketika Hamba Allah selain dirimu masih terjebak dalam lingkaran Syaithan.
Sampai kelak peluhmu habis menetes dan engkau syahid dengan cintaNya.

Jangan pernah bertanya, "mengapa aku harus berdakwah?"
Saat insan-insan yang engaku cintai dalam pantauan Algojo kemunkaran.
Saat saudara-saudaramu masih belum mencium dan memeluk indahnya Hidayah.
Hingga nanti hatimu dipenuhi senyuman indah melihat saudaramu merangkul erat  Hidayah Allah.

Saudaraku...
Ada jaminan syurga dari Allah untuk mereka yang berjuang di JalanNya.
"Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (QS Al Mukminun : 10-11)
Karena itu, bekerjalah saudaraku, berjuanglah... 
Jangan terbersit lagi, "Mengapa aku harus berdakwah?".
Wallahu'alam..














Jumat, 12 Juni 2015

Makna Perintah Puasa di Surah Al Baqarah : 183

Makna Perintah Puasa di Surah Al Baqarah : 183
By : Rudifillah el Karo




Ayat yang mulia tersebut berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Ayat ini mengandung suatu rahasia yang amat besar. yaitu bagaimana manusi berproses setelah ia beriman. Kita coba bahas satu persatu.

1.  Iman adalah Pondasinya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman”

Dari lafadz ini diketahui bahwa ayat ini madaniyyah atau diturunkan di Madinah (setelah hijrah, pen), sedangkan yang diawali dengan yaa ayyuhan naas, atau yaa bani adam, adalah ayat makkiyyah atau diturunkan di Makkah (makiyyah). Sehingga tujuan ayatnya lebih spesifik yaitu orang2 yang telah beriman bersama Rasulullah.

Lalu apakah iman itu sendiri?
مَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ

Dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar” (QS. Yusuf 17)

Dari ayat diatas dapat diketahui bahwa iman artinya membenarkan atau percaya. Sehingga puasa sendiri ditujukan hanya kepada orang2 yang sudah membenarkan akan kewajibannya atas seorang muslim.

Dengan demikian tidak dapat dibenarkan orang yang mengaku beriman namun enggan melaksanakan shalat, enggan membayar zakat, dan amalan-amalan lahiriah lainnya. Karena orang seperti ini masih ada keraguan dalam hatinya.

2. Puasa Adalah Prosesnya.

Puasa adalah proses dimana seorang yang beriman akan memperoleh nilai taqwa disisi Allah. Puasa adalah salah satu proses ibadah yang cukup berat pelaksanaannya. Karena kewajiban ini adalah rahasia hamba Allah dengan Rabbnya, maka pengokohan tauhidlah yang terlebih dahulu harus dilakukan. Sebagaimana perintah puasa di zaman Rasulullah diturunkan ditunda hingga tahun kedua Hijriah.

Syaikh Ali Hasan Al Halabi menyatakan: “Kewajiban puasa ditunda hingga tahun kedua Hijriah, yaitu ketika para sahabat telah mantap dalam bertauhid dan dalam mengagungkan syiar Islam. Perpindahan hukum ini dilakukan secara bertahap. Karena awalnya mereka diberi pilihan untuk berpuasa atau tidak, namun tetap dianjurkan” (Shifatu Shaumin Nabi Fii Ramadhan, 1/21)

3⃣ Taqwa adalah hasilnya.

Ibarat sebuah kompetisi, hanya orang yang mau bekerja keras yang akan sampai ke finis dan mendapatkan reward. Banyak orang yang ikut dalam proses menuju ketaqwaan, namun tidak semuanya lulus dan sampai memperoleh nilai Taqwa.

Imam Al Baghawi dengan penjelasannya: “Maksudnya, mudah-mudahan kalian bertaqwa karena sebab puasa. Karena puasa adalah wasilah menuju taqwa. Sebab puasa dapat menundukkan nafsu dan mengalahkan syahwat. Sebagian ahli tafsir juga menyatakan, maksudnya: agar kalian waspada terhadap syahwat yang muncul dari makanan, minuman dan jima”

Lalu Lebih tinggu manakah, orang bertaqwa ataukah beriman??

Orang bertaqwa tanpa beriman ibarat orang punya atap namun tidak punya bangunan. Maka dia bukanlah dinamakan bangunan, melainkan hanya sebuah atap.
Orang beriman tanpa taqwa ibarat sebuah bangunan tanpa atap, maka tidak sempurnalah dia dikatakan sebagai sebuah bangunan.
itulah perumpamaan antara Iman dan Taqwa, tidak ada yang lebih tinggu melainkan saling menyempurnakan.

Wallahu'alam

Senin, 08 Juni 2015

Sebenarnya, Hidupmu Ibarat Mimpi.

Sebenarnya, Hidupmu Ibarat Mimpi.

By : Rudifillah el Karo.

Saudaraku...
Banyak dari kita yang terlena atas apa yang ada di genggaman kita.
Kemuliaan, kehotmatan dan sanjungan yang diberikan manusia menjadikan kita lupa siapa dan untuk apa kita diciptakan.
Semua titipan Allah, keluarga, kesehatan dan harta menutupi mata hati dari esensi penciptaan kita.
Sehingga kita lupa manakah yang fana, Dunia ini ataukah akhirat.

Saudaraku..
Seandainya setiap keburukan yang kita perbuat Allah hadiahkan dengan satu bau busuk di tubuh kita.
Bisakah kita bayangkan, sebau busuk apa jasad kita sekarang?
Adakah lagi orang yang menghormati dan memuliakan kita?
Adakah lagi kebanggaan kita pada diri kita?
Tidak, mungkit tidak ada lagi kehormatan untuk kita..

Sungguh, kehormatan yang kita dapat sekarang karena Allah tidak mau membuka aib kita.
Sungguh, sanjungan dan kemuliaan kita dapat sekarang karena Allah menghijab aib kita dari mata manusia.
Sungguh, kesantunan yang kita peroleh karena Allah mencintai kita dan tak ingin kita dilecehkan.
Maka saudaraku, jangan biarkan Allah buka aib itu karena keengganan kita istighfar dan bertaubat.

Saudaraku...
Sadarkah kita bahwa hidup ini hanyalah ibarat mimpi?
Pemimpi akan sadar saat terbangun, ia juga melupakan sebagian besar mimpinya..
Dan seperti itulah kita saat kematian tiba.
Tersadar dan mulai faham bahwa kehidupan ini sebenarnya hanyalah fana.
Mungkin kita akan berkata : "aku telah kembali ke kehidupan sebenarnya"
Yah, sama seperti pemimpi..

Mari kita ketuk hati kita agar tersadar.
Memahami hidup dan semua yang ada didalamnya hanyalah ujian.
Kemuliaan, penghormatan dan kesantuan orang itu tak berharga dibanding keimanan.
Karena sebab keimananlah Allah tutupi aib dan keburukan kita..
Karena sebab keimananlah Allah akan muliakan kita di Akhirat..
Wallahu'alam..


Kamis, 28 Mei 2015

Pentingnya Niat dalam Pernikahan..


Pentingnya Niat dalam Pernikahan..

By: Rudifillah el Karo.




وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS. Ar Ruum : 21)
Penikahan yang sakinah dan mawaddah mungkin adalah impian dari setiap muslim. Memiliki anak-anak yang soleh dan soleha, mendapatkan ketentraman dari seorang istri yang lembut perangainya, serta mendapatkan penjagaan dari seorang suami yang memiliki jiwa kempemimpinan yang baik. Memiliki partner seorang suami yang mampu membuat keputusan, berakhlak mulia dan imam yang baik, atau memiliki seorang istri yang penurut, mau dipimpin dan baik dalam managemen keluarga.
Pada saat sebelum menikah, manusia setengahnya berada dalam angan-angan, ibarat melihat sebuah gunung yang Indah dengan segala isinya. Mereka tahu bahwa menikah itu akan menghadapi cobaan, seperti layaknya mendaki gunung. Namun, sebagian mereka lupa bahwa dalam perjalanan mereka harus menurun menyisiri lembah yang penuh kesulitan dan bahaya. Sehingga banyak yang akhirnya rumah tangga gagal yang gagal di perjalanan karena kurangnya persiapan menghadapi ujian yang ada.


Hanya sedikit manusia yang sebenarnya siap menghadapi masalah dalam rumah tangga saat dia menyatakan "iya" untuk lamaran pujaan hatinya. Karena itu diperlukan pematangan semasa perjalanan pernikahan berlansung, saling dukung antara suami dan istri serta saling mengisi kekosongan yang ada.
Untuk menjaga kelemahan-kelemahan tersebut maka diperlukan niat yang benar dalam memulai pernikahan. Karena niat yang benar karena meraih ridho Allah SWT, akan mendapatkan jaminan keberkahan dari Allah SWT sebagaimana Allah tegaskan dalam Hadits Rasulullah:
"Wanita Dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu." (HR. Muslim)
Apakah salah ketika orang menikah karena kecantikan calon istrinya?, atau karena kekayaan yang dimiliki calon istrinya? atau karena dia dan keluarganya yang memiliki kedudukan?. Tentu saja tidak, karena menikah karena hal tersebut sama sekali tidak membatalkan penikahan. Kecuali jika niatnya untuk menyakiti si wanita, maka hukumnya menjadi Haram.
Niat dalam menikah menjadi sangat penting karena niat yang salah bisa menjadikan pernikahan menjadikan seseorang menjadi rendah dihadapan Allah, menjadi melarat atau bahkan menjadikan dia dihinakan Allah.
"Barangsiapa mengawini seorang wanita karena memandang kedudukannya maka Allah akan menambah baginya kerendahan, dan barangsiapa mengawini wanita karena memandang harta-bendanya maka Allah akan menambah baginya kemelaratan, dan barangsiapa mengawininya karena memandang keturunannya maka Allah akan menambah baginya kehinaan, tetapi barangsiapa mengawini seorang wanita karena bermaksud ingin meredam gejolak mata dan menjaga kesucian seksualnya atau ingin mendekatkan ikatan kekeluargaan maka Allah akan memberkahinya bagi isterinya dan memberkahi isterinya baginya." (HR. Bukhari)
Ada banyak keluarga yang gagal dalam membangun rumah tangga hanya karena kesalahan dalam niat membangun rumah tangga. Kegagalan itu bisa berupa terputusnya jodoh di perjalanan, anak yang tidak taat pada orang tua, atau suasana rumah tangga terasa gersang. Banyak orang yang terjebak dalam hal ini, bahkan seorang aktivis dakwah pun sering terjebak. Sehingga tidak heran jika ada seorang aktivis dakwah yang kita lihat kesolehan pribadinya luar biasa, aktivitas dakwahnya yg padat namun gagal membangun rumah tangga yang sakinah dan mawaddah. Dikarenakan niat menikahnya untuk alasan lain, misalkan sebagai penerus tradisi aktivis harus menikah dengan aktivis, ustadz dengan ustadzah padahal niat mereka untuk meraih ridho Allah menjadi terabaikan.
Nikah yang berbuah ridha Allah adalah nikah yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Sesuai di sini bukan berarti sesuai tatacara atau syarat sah nikah semata. Toh banyak orang yang menikah dengan memakai tata cara dan syarat sah nikah berdasar Islam tapi tetap saja, rumah tangganya tidak membuahkan kebahagiaan, baik kebahagiaan lahir atau pun batin.
Oleh karena itu, selain tata cara dan syarat sah nikah yang islami, yaitu yang sesuai dengan ajaran dan yang disunnahkan oleh Rasulullah, kita juga harus memperhatikan satu hal penting dalam proses seseorang menuju jenjang kehidupan baru. Satu hal yang paling urgen ketika seseorang sudah siap untuk menempuh biduk rumah tangga adalah niat yang lurus.
Lalu bagaimanakah niat yang benar dalam membangun Rumah Tangga? Niatkanlah menikah untuk menggapai ridha Allah SWT Semata, bukan karena faktor-faktor yang lainnya. Niatkanlah menikah untuk membentuk sebuah keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Pernikahan yang akan melahirkan generasi mujahid dan penegak Islam dan penerus estafet perjuangan dakwah.
Lantas, jika sudah salah niat dan hampir mencapai kegagalan, apakah masih bisa memperbaharui niat?
Tidak ada kata terlambat dalam meluruskan niat, karena niat itu bisa dibuat sebelum melaksanakan Ibadah, dan meluruskan sepanjang kita melaksanakan ibadah tersebut.
Dalam menikah, kita akan dipertemukan dengan insan yang berbeda, yang secara kasat mata mungkin sekufu, tapi belum tentu dalam realitasnya. Laki-laki akan cenderung mencari wanita yang lemah lembut perangainya, bisa dipimpin dan mampu meneduhkan pandangan mata suami saat memandangnya. Sedangkan wanita cenderung mencari lelaki yang cerdas dalam membangun keluarga, berperangai kokoh secara mental, mampu menghadapi masalah dan umumnya lebih pintar dari dirinya.
Hal-hal detail tersebut, hanya sebagian kecil yang akan terkuak dalam proses ta'aruf. Dalam kondisi ini, jika terdapat perbedaan yang mencolok akan menjadi bibit kegagalan rumah tangga. Pengikat mereka dalam kondisi ini adalah niat dalam menikah serta visi misi dalam menjalani keluarga, jika hal ini bisa mereka pegang sesuai tuntunan syariah, maka api-api kecil dalam rumah tangga akan terpadamkan.
Nah, bagi anda yang berniat menikah. Perbaikilah niat dari sekarang. Niatkan untuk meraih ridho Allah semata. Semoga keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah tercapai. Wallahu'alam bishowab..

Selasa, 26 Mei 2015

Keutamaan Membaca Al Qur'an di Bulan Ramadhan.

Tarhib Ramadhan
By: Rudifillah El karo



الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal  kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.
Ikhwafillah Rahimakumullah,..

Sebentar lagi kita akan menyambut bualan Ramadhan. Bulan yang Allah muliakan Diantara bulan-bulan lainnya. Bulan yang penuh dengan Keberkahan, Penuh dengan pengampunan dari Allah. Dimana kemuliaan bulan ini setidaknya Rasulullah sampaikan pada hadits berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa'." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i)

Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah bersabda:
"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do'a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. " (HR.Ath-Thabrani, dan para periwayatnya terpercaya).
Al-Mundziri berkata: "Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Al-Baihaqi, keduanya dari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pemah mendengar darinya."

Kutamaan Membaca Al Qur’an di Bulan Ramadhan

Adalah ditekankan bagi seorang muslim yang mengharap rahmat Allah dan takut akan siksa-Nya untuk memperbanyak membaca Al-Qur'anul Karim pada bulan Ramadhan dan buian-bulan lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala, mengharap ridha-Nya, memperoleh keutamaan dan pahala-Nya. Karena Al-Qur'anul Karim adalah sebaik-baik kitab, yang diturunkan kepada Rasul termulia, untuk umat terbaik yang pernah dilahirkan kepada umat manusia; dengan syari'at yang paling utama, paling mudah, paling luhur dan paling sempurna.

Al-Qur'an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafa'at baginya pada hari Kiamat.

Allah telah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Qur'an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat, dengan firmanNya " Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. " (Thaha:123),

Janganlah seorang muslim memalingkan diri dari membaca kitab Allah, merenungkan dan mengamalkan isi kandungannya. Allah telah mengancam orang-orang yang memalingkan diri darinya dengan firman-Nya :
"Barangsiapa berpaling dari Al-Qur'an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari Kiamat. " (Thaha : 100),

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. " (Thaha: 124),
Maka bersungguh-sungguhlah -semoga Allah menunjuki Anda kepada jalan yang diridhaiNya untuk mempelajari Al-Qur'anul Karim dan membacanya dengan niat yang ikhlas untuk Allah Ta'ala. Bersungguh-sungguhlah untuk mempelajari maknanya dan mengamalkannya, agar mendapatkan apa yang dijanjikan Allah bagi para ahli Al-Qur'an berupa keutamaan yang besar, pahala yang banyak, derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi. Para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dahulu jika mempelajari sepuluh ayat dari Al-Qur'an, mereka tidak melaluinya tanpa mempelajari makna dan cara pengamalannya.

Dan perlu Anda ketahui, bahwa membaca Al-Qur'an yang berguna bagi pembacanya, yaitu membaca disertai merenungkan dan memahami maknanya, perintah-perintahnya dan larangan-larangannya. Jika ia menjumpai ayat yang memerintahkan sesuatu maka ia pun mematuhi dan menjalankannya, atau menjumpai ayat yang melarang sesuatu maka iapun meninggalkan dan menjauhinya. Jika ia menjumpai ayat rahmat, ia memohon dan mengharap kepada Allah rahmat-Nya; atau menjumpai ayat adzab, ia berlindung kepada Allah dan takut akan siksa-Nya. Al-Qur'an itu menjadi hujjah bagi orang yang merenungkan dan mengamalkannya; sedangkan yang tidak mengamalkan dan memanfaatkannya maka Al-Qur'an itu menjadi hujjah terhadap dirinya (mencelakainya).

Firman Allah Ta 'ala :
"lni adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran." (Shad: 29).

Bulan Ramadhan memiliki kekhususan dengan Al-Qura'nul Karim, sebagaimana firman Allah :
"Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan permulaan Al-Qur'an ... "(Al-Baqarah: 185).
Dan dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertemu dengan Jibril pada bulan Ramadhan setiap malam untuk membacakan kepadanya Al-Qur'anul Karim.

Hal itu menunjukkan dianjurkannya mempelajari Al-Qur'an pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk itu, juga membacakan Al-Qur'an kepada orang yang lebih hafal. Dan juga menunjukkan dianjurkannya memperbanyak bacaan Al-Qur'an pada bulan Ramadhan.

Tentang keutamaan berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari Al-Qur'anul Karim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya. " (HR. Muslim).

Dalam hadits Ibnu Abbas di atas disebutkan pula mudarasah antara Nabi dan Jibril terjadi pada malam hari. Ini menunjukkan dianjurkannya banyak-banyak membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan pada malam hari, karena malam merupakan waktu berhentinya segala kesibukan, kembali terkumpulnya semangat dan bertemunya hati dan lisan untuk merenungkan. Seperti dinyatakan dalam firman Allah :
"Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu '), dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. "(Al-Muzzammil: 6).

Disunatkan membaca Al-Qur'an dalam kondisi sesempurna mungkin, yakni dengan bersuci, menghadap kiblat, mencari waktu-waktu yang paling utama seperti malam, setelah maghrib dan setelah fajar.

Boleh membaca sambil berdiri, duduk, tidur, berjalan dan menaiki kendaraan. Berdasarkan firman Allah :
"(Yaitu) orang-orang yang dzikir kedada Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring... "(A1'Imran: 191).
Sedangkan Al-Qur'anul Karim merupakan dzikir yang paling agung.

Kadar Bacaan Al Qur’an yang Disunnahkan

Disunatkan mengkhatamkan Al-Qur'an setiap minggu, dengan setiap hari' membaca sepertujuh dari Al-Qur'an dengan melihat mushaf, karena melihat mushaf merupakan ibadah. Juga mengkhatamkannya kurang dari seminggu pada waktu-waktu yang mulia dan di tempat-tempat yang mulia, seperti: Ramadhan, Dua Tanah Suci dan sepuluh hari Dzul Hijjah karena memanfaatkan waktu dan tempat. 

Jika membaca Al-Qur'an khatam dalam setiap tiga hari pun baik, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada Abdullah bin Amr :
"Bacalah Al-Qur'an itu dalam setiap tiga hari "( Lihat kitab Fadhaa'ilul qur'an, oleh Ibnu Katsir, him. 169-172 dan Haasyiatu Muqaddimatit Tafsiir, oleh Ibnu Qaasim, hlm. 107.)

Dan makruh menunda khatam Al-Qur'an lebih dari empat puluh hari, bila hal tersebut dikhawatirkan membuatnya lupa. Imam Ahmad berkata : "Betapa berat beban Al-Qur'an itu bagi orang yang menghafalnya kemudian melupakannya."
Dilarang bagi yang berhadats kecil maupun besar menyentuh mushaf, dasarnya firman Allah Ta 'ala :
"Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. "(Al-Waqi'ah: 79).


Dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wassallam :
"Tidak dibenarkan menyentuh Al-Qur'an ini kecuali orang yang suci. " (HR. Malik dalam Al-Muwaththa,Ad-Daruquthni dan lainnya)" (Hai ini diperkuat hadits Hakim bin Hizam yang lafazhnya: "Jangan menyentuh Al-qur'an kecuali jika kamu suci." (HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim dengan menyatakannya shahih).


Asy-Syathibi dalam kitab Al-Muwaafaqaat mengatakan : "Sudah menjadi kesepakatan bahwa kitab yang mulia ini adalah syari'at yang sempurna, sendi agama, sumber hikmah, bukti kerasulan, cahaya penglihatan dan hujjah. Tiada jalan menuju Allah selainnya, tiada keselamatan kecuali dengannya dan tidak ada yang dapat dijadikan pegangan sesuatu yang menyelisihinya. Kalau demikian halnya, mau tidak mau bagi siapa yang hendak mengetahui keuniversalan syariat, berkeinginan mengenal tujuan-tujuannya serta mengikuti jejak para ahlinya harus menjadikannya sebagai kawan bercakap dan teman duduknya sepanjang siang dan malam dalam teori dan praktek; maka dekat waktunya ia mencapai tujuan dan menggapai cita-cita serta mendapati dirinya termasuk orang-orang pendahulu, dan dalam rombongan pertama jika ia mampu. Dan tidaklah mampu atas hal itu kecuali orang yang senantiasa menggunakan apa yang dapat membantunya, yaitu sunnah yang menjelaskan kitab ini. Selainnya, adalah ucapan para imam terkemuka dan salaf pendahulu yang dapat membimbingnya dalam tujuan yang mulia ini." ( Lihat AI Muwafaqaat, oleh Asy-Syathibi, 31224.)