Kamis, 19 Januari 2017

JANGAN TERTIPU DENGAN GELARMU, KITA BUKAN SIAPA-SIAPA.

JANGAN TERTIPU DENGAN GELARMU, KITA BUKAN SIAPA-SIAPA.



Nu'man bin Tsabit yang dikenal dengan sebutan Abu Hanifah, atau populer disebut IMAM HANAFI, pernah berpapasan dengan anak kecil yang berjalan mengenakan sepatu kayu (terompah kayu).
Sang Imam berkata: _"Hati-hati nak dengan sepatu kayumu itu, jangan sampai kau tergelincir."_
Bocah ini pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih,
dan bertanya..
"Bolehkah saya tahu namamu Tuan?" tanya si bocah.
"Nu'man namaku", Jawab sang Imam."
Jadi, Tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar Al-imam Al-a'dhom. (Imam Agung) itu..??" tanya si bocah.
"Bukan aku yang memberi gelar itu, masyarakat-lah yang berprasangka baik dan memberi gelar itu kepadaku."
Si bocah berkata lagi.."Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai tuan tergelincir ke neraka karena gelar itu...! Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia.
Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke dalam api yang kekal, jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya."
Ulama besar yang diikuti banyak umat Islam itupun tersungkur menangis....
Imam Abu Hanifah bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang bocah.
Betapa banyak manusia tertipu karena jabatan,
tertipu karena kedudukan,
tertipu karena gelar
tertipu karena kemaqoman*
tertipu karena harta yang berlimpah,
tertipu karena status sosial.
Jangan sampai kita tergelincir... jadi angkuh dan sombong karenanya.
*PEPATAH MENGATAKAN:*
_"SEPASANG TANGAN YANG MENARIKMU KALA TERJATUH LEBIH HARUS KAU PERCAYAI_
_DARIPADA SERIBU TANGAN YANG MENYAMBUTMU KALA TIBA DI PUNCAK KESUKSESAN"._
Semoga bermanfaat..aamiinn...


Cara Membaca Ayat: Alif – Laam – Miim



Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Ada 2 teori untuk memudahkan memahami huruf semacam ini:
Pertama, huruf-huruf hijaiyah di awal surat (Mafatih As-Suwar) disebut dengan huruf muqatha’ah. Muqatha’ah secara bahasa artinya terputus-putus. Disebut huruf muqatha’ah karena huruf ini dibaca secara terputus-putus, sehuruf demi sehuruf, dan tidak bersambung.
Tulisan:  آلـم kita baca alif laam miim, dan bukan alam, atau alim, atau ilam.
Tulisan: طسـم kita baca tha siin miim, dan bukan thasam, atau thisam, atau thasim.
Kedua, dalam qiraah Imam Hafsh dari ‘Ashim (cara baca yang mengikuti riwayat dua ulama qiraah), huruf muqatha’ah dibaca sebagaimana nama aslinya dalam abjad hijaiyah, dengan tetap mengikuti kaidah tajwid dalam cara membacanya.
Sebagai contoh:
Tulisan : الم   kita baca alif laam miim. Atau jika kita tulis dalam teks arab:
أَلِـفْ لَامْ مِيمْ
Kita menemukan ada 3 hukum tajwid pada teks ini:
1. Mad aridh lis sukun, yaitu pada kata [لَام]. Pada kata ini terdapat dua huruf mati yang bergandengan: alif dan mim. Kaidahnya: jika ada dua huruf mati yang bergandengan dan huruf pertama adalah huruf illah maka dihukumi mad aridh lis sukun, yang dibaca 4 – 6 harakat. Huruf illah : [ا – و – ي] yang berfungsi memanjangkan.
2. Idhgham mimii atau idgham mutamatsilain, yaitu pada kata: [لام ميم]. Di situ mim mati ketemu mim di depannya. Dan idgham mutamatsilain dibaca ghunnah (ditahan dengan mendengung).
3. Mad aridh lis sukun pada kata [ميم]. Pada kata ini terdapat dua huruf mati yang bergandengan: ya dan mim. Sehingga berlaku hukum mad aridh lis sukun, yang dibaca 4 – 6 harakat.
Untuk memudahkan cara baca, di Alquran cetakan indonesia, huruf lam dan mim diberi harakat ~ (seperti alis), mengingatkan agar dibaca panjang. Karena hukum tajwid yang berlaku adalah mad ‘aridh lis sukun. Meskipun bisa jadi, tanda seperti ini tidak kita jumpai pada Alquran cetakan yang lain. Namun cara membacanya tetap sama.
Sebagai tambahan, anda berlatih membaca  كهيعص. Cara baca yang benar: Kaaf – ha  – ya – ‘aiin – shaad. Atau jika ditulis lebih lengkap:
كَافْ هَا يَا عَيْنْ صَادْ
Kita menemukan beberapa hukum tajwid pada kalimat di atas:
1. Mad aridh lis sukun, pada kata [كَافْ]. Pada kata ini terdapat dua huruf mati yang bergandengan: alif dan fa’. Kita punya kaidah: jika ada dua huruf mati yang bergandengan dan huruf pertama adalah huruf illah maka dihukumi mad aridh lis sukun, yang dibaca 4 – 6 harakat.
2. Mad thabi’i, pada kata [هَا] dan [يَا], yang panjangnya 2 harakat. Karena itu, pada tulisan di atas, huruf ha dan ya tidak diberi harakat alis.
3. Mad layn, pada kata: [عَيْنْ], karena ada ya dan nun yang mati, sementara harakat sebelum ya bukan kasrah. Mad layn dibada 4 – 6 harakat.
4. Ikhfa’ pada pertemuan antara ain dan shad [عَيْنْ صَادْ], di situ nun mati ketemu huruf shad. Hukum nun mati atau tanwin yang ketemu huruf shad dan beberapa saudaranya, dibaca samar mempersiapkan untuk mengucapkan shad.
5. Mad aridh lis sukun, pada kata [صَادْ]. Sebagaimana penjelasan sebelumnya.
6. Qalqalah kubro, pada kata [صَادْ], karena di situ dal mati di akhir kata. Dan cara membacanya dengan dipantulkan.
Allahu a’lam
oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Kamis, 27 Oktober 2016

Mencari Kedudukan yang Tinggi (AL Manzilatul ‘Ulya)

Mencari Kedudukan yang Tinggi (AL Manzilatul ‘Ulya)
 Ustadzah Rochma Yulika



🌷Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.”
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq. (Q.S. At-Taubah: 24).

💦Beban kehidupan dunia yang kita hadapi, apapun bentuknya, jangan sampai membuat kita kehilangan kepekaan dan kesigapan memenuhi seruan dakwah dan jihad. Masalah-masalah yang menhampiri pun jangan membuat merasa enggan menapaki jalan kebaikan yang telah dicontohkan oleh para pendahulu kita. Mereka tak kenal lelah, mereka pantang menyerah, dan mereka tak pernah mudah berkeluh kesah.

💦Maka kita patut bertanya dan mengevaluasi diri. Seberapa kuatkah hakikat kehidupan abadi di akhirat telah tertanam dalam hati sehingga kita berhak mendapatkan ri’ayah rabbaniyyah tersebut yang membuat ruhul istijabah menjadi karakter dalam diri kita?

🌷Seberapa kuat hakikat ini mewarnai atau men-shibghah (QS 2:138) diri dan perilaku kita sehingga segala resiko duniawi dalam dakwah dan jihad fi sabililillah menjadi kecil di mata kita?

Tak mudah kita berkaca dari sejarah di masa lalu. Perjuangan para sahabat yang selalu sigap dalam menjalankan amanah dakwah dan jihad. Juga para salafusshalih yang senantiasa menghabiskan waktunya untuk berkarya demi agama ini.

Waktu demi waktu dijalani tanpa sebuah kesia-siaan. Usia mereka memanjang lantaran kiprah besarnya di jalan dakwah ini. Jasad mereka telah tiada namun kebaikan yang mereka renda akan ada hingga dunia tutup usia.

Kehidupan mereka menjadi amat berarti dan berharga karena mereka sigap menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya.

Kesigapan itu bukanlah suatu hal yang muncul begitu saja, melainkan adalah buah keimanan kepada Allah sebagai Pemberi dan Pencipta kehidupan, buah keimanan yang kokoh kepada hari akhir saat terwujudnya kehidupan dan kebahagiaan hakiki. Kesigapan itu lahir dari hati yang tidak lalai dari hakikat ini berkat taufiq dan ri’ayah rabbaniyah.

💦Oleh sebab itu, Allah SWT berfirman: “…dan ketahuilah bahwa Allah membentengi antara seseorang dengan hatinya, dan ketahuilah bahwa hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan (di mahsyar).

🌷Dakwah dan jihad adalah dua kata yang selamanya harus ada dan terpatri dalam diri seorang Muslim yang menghendaki al-manzilah al-‘ulya (kedudukan tinggi) di sisi Allah SWT.

Setiap mukmin yang memahami dan menghayati hakikat kehidupan pasti akan menempuh jalan kebahagiaan abadi di sisi Allah SWT. Ia akan mendekat, berlari, dan terbang menuju keridhaan-Nya “fafirruu ilallaah” (Q.S. Adz-Dzaariyaat/51/50).

Dan setiap diri yang di dalam relung hatinya terhunjam keyakinan bahwa kematian itu kepastian yang cuma terjadi sekali, maka ia akan memilih seni kematian yang paling mulia di sisi Allah.

💦Imam Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah mengungkapkan bahwa umat yang dapat memilih seni kematian dan memahami bagaimana mencapai kematian yang mulia, maka pasti Allah berikan kepada mereka kemuliaan hidup di dunia dan kenikmatan abadi di akhirat (Risalah Jihad-Majmu’ah Rasail Al-Banna).

💧Adakah jalan yang lebih mulia dan dapat membawa kita menuju puncak kebahagiaan selain jalan dakwah yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan yang beliau nyatakan menjadi jalan pengikutnya?

💧Dan adakah kematian yang lebih terpuji di sisi-Nya yang selalu didambakan oleh hamba-hamba yang beriman sejak dulu hingga hari kiamat selain mati dalam jihad fii sabiililllah?

TIDAK!!!

💦Jalan menuju surga hanya ditempuh dengan perjuangan dan pengorbanan dalam dakwah dan jihad.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfaal: 24).

Dakwah dan jihad adalah dua kata yang selamanya harus ada dan terpatri dalam diri seorang Muslim yang menghendaki al-manzilah al-‘ulya (kedudukan tinggi) di sisi Allah SWT. Setiap mukmin yang memahami dan menghayati hakikat kehidupan pasti akan menempuh jalan kebahagiaan abadi di sisi Allah SWT. Ia akan mendekat, berlari, dan terbang menuju keridhaan-Nya “fafirruu ilallaah” (Q.S. Adz-Dzaariyaat/51/50). Dan setiap al-akh yang di dalam relung hatinya terhunjam keyakinan bahwa kematian itu kepastian yang cuma terjadi sekali, maka ia akan memilih seni kematian yang paling mulia di sisi Allah.
Imam Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah mengungkapkan bahwa umat yang dapat memilih seni kematian dan memahami bagaimana mencapai kematian yang mulia, maka pasti Allah berikan kepada mereka kemuliaan hidup di dunia dan kenikmatan abadi di akhirat (Risalah Jihad-Majmu’ah Rasail Al-Banna).

Akhil kariim, adakah jalan yang lebih mulia dan dapat membawa kita menuju puncak kebahagiaan selain jalan dakwah yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan yang beliau nyatakan menjadi jalan pengikutnya? Allahumma laa. Dan adakah kematian yang lebih terpuji di sisi-Nya yang selalu didambakan oleh hamba-hamba yang beriman sejak dulu hingga hari kiamat selain mati dalam jihad fii sabiililllah? Allahumma laa.

Apakah (orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Q.S. At-Taubah: 19-20)

Ikhwati, tidak ada yang telah membuat usia para sahabat dan para ulama sekaliber Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad r.a. seolah terus memanjang hingga akhir zaman, kecuali dakwah yang mereka lakukan. Tidak ada sesuatu yang telah membuat lisan orang-orang mukmin menyebut dan mendoakan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, dan Khalid bin Walid r.a. atau tokoh-tokoh seperti Shalahuddin Al-Ayyubi, Thariq bin Ziyad, dan Al-Muzhaffar Quthuz selain jihad fii sabilillah. Kehidupan mereka menjadi amat berarti dan berharga karena mereka sigap menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya.

Namun akhil kariim, kesigapan itu bukanlah suatu hal yang muncul begitu saja, melainkan adalah buah keimanan kepada Allah sebagai Pemberi dan Pencipta kehidupan, buah keimanan yang kokoh kepada hari akhir saat terwujudnya kehidupan dan kebahagiaan hakiki. Kesigapan itu lahir dari hati yang tidak lalai dari hakikat ini berkat taufiq dan ri’ayah rabbaniyah. Oleh sebab itu, Allah SWT berfirman: “…dan ketahuilah bahwa Allah membentengi antara seseorang dengan hatinya, dan ketahuilah bahwa hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan (di mahsyar).

Maka kita patut bertanya dan mengevaluasi diri. Seberapa kuatkah hakikat kehidupan abadi di akhirat telah tertanam dalam hati sehingga kita berhak mendapatkan ri’ayah rabbaniyyah tersebut yang membuat ruhul istijabah menjadi karakter dalam diri kita? Seberapa kuat hakikat ini mewarnai atau men-shibghah (QS 2:138) diri dan perilaku kita sehingga segala resiko duniawi dalam dakwah dan jihad fi sabililillah menjadi kecil di mata kita?

Kekuatan inilah yang menyebabkan Anas bin An-Nadhr r.a.--paman Anas bin Malik r.a.) memberikan respon spontan kepada Saad bin Muadz r.a. tatkala pasukan mukmin terdesak oleh musyrikin di perang Uhud dengan ucapannya: “Ya Saad! Surga…surga… aku mencium baunya di bawah bukit Uhud.” Kemudian beliau maju menjemput syahid hingga jenazahnya tidak dapat dikenali, kecuali oleh saudara perempuannya lewat jari tangannya (Muttafaq ‘alaih - Riyadhus shalihin, Kitab Al-Jihad, hadits No 1317).

Hal itu pula yang menjadikan Hanzhalah Sang ‘Ghasiil Al-malaikat’ segera merespon panggilan jihad, meski ia baru menikmati malam pengantin dan belum sempat mandi hadats besar. Perhatikan pula respon ‘Umair Ibn Al-Humam r.a. tatkala beliau mendengar sabda Rasulullah SAW, “Quumuu ilaa jannatin ‘ardhuhas-samaawaatu wal-ardh” (Bangkitlah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi). Beliau mengucapkan kata “bakh-bakh” (ungkapan takjub terhadap kebaikan dan pahala) semata-mata karena ingin menjadi penghuni surga, lalu segera membuang beberapa biji kurma yang sedang dikunyahnya sambil berkata, “La-in ana hayiitu hattaa aakula tamaraatii haadzihii innahaa lahayaatun thawiilah” (Jika saya hidup sampai selesai memakan kurma ini, oh betapa lamanya (menanti surga)). Lalu beliau maju hingga gugur di perang Badar. (H.R. Muslim, dalam Riyadhus shalihin, Kitab Al-Jihad, hadits No 1314).
Atau seperti Imam Al-Banna yang berangkat menunaikan tugas dakwah meskipun anaknya terbaring sakit. Beliau meyakini bahwa setelah usahanya optimal untuk mengobati putranya, Allah SWT yang diharapkan ridha-Nya dalam menunaikan tugas dakwahnya, tidak pernah akan mengecewakan dirinya.

Akhil ‘aziiz, ruhul istijabah juga muncul karena pemahaman kita tentang qhadhaya ummah (fahmul qhadaya) dan tanggung jawab (ruhul mas’uliyyah) kita untuk mencari solusinya. Orang yang tidak mengetahui bahaya yang mengancam dirinya, sangat sulit kita harapkan responnya untuk menghindari apalagi menghilangkan bahaya tersebut. Imam Syahid Hasan Al-Banna bahkan menghendaki agar setiap al-akh memiliki kepekaan perasaan (daqiiq asy-syu’uur), bukan sekadar pengetahuan teoritis, tetapi harus menjadi kepekaan perasaan yang membuatnya tersentuh bahagia dengan kebaikan, dan terluka karena keburukan dan kebatilan. Bukankah dakwah adalah upaya kita menegakkan al-haq dan menghancurkan kebatilan?

Jodoh dan Kematian itu Pasti, Mengapa yang dinanti hanya Jodoh??

Jodoh dan Kematian itu Pasti, Mengapa yang dinanti hanya Jodoh??By: Rudifillah el Karo



Kematian dan Pernikahan adalah 2 hal yang menjadi Iradah Allah, yang waktu dan tempatnya sudah Allah tentukan. Namun intensitas manusia mengingat kedua hal tersebut, apalagi di usia2 Remaja atau produktif sangat berbeda jauh.
Kita berbicara tentang pernikahan jauh lebih sering dibandingkan berbicara kematian. Padahal kematian itu sesuatu yang Allah tidak buka sedikitpun petunjuk atau tanda2 kalau kita akan menghadapinya. Sedangkan pernikahan Allah biarkan kita terlibat dalam proses penentuan dan persiapannya?

Membayangkan pernikahan memang selalu indah, bertemu pujaan hati, kesendirian menjadi kebersamaan, yang Haram menjadi Halal, yang mubah menjadi Ibadah. Namun membayangkan kematian itu yang terlintas adalah bayangan kehilangan orang yg dicintai, menghadapi pertanyaan Malaikat, Siksa kubur dan lainnya. Padahal kalau difikir lebih dalam, seharunya seorang yg beriman lebih merindukan datangnya kematian daripada pernikahan karena harapannya mendapatkan syurga Allah.

Jodoh adalah sesuatu yang tidak pasti. Bahkan dalam kondisi tertentu wanita dibolehkan melajang. Allah berfirman,

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ

Dan para wanita tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin menikah, tidaklah berdosa menanggalkan pakaian luar mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan aurat, dan menjaga kehormatan adalah lebih baik bagi mereka (QS. An-Nur: 60)

Kemudian, dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan daftar orang yang mati syahid, di luar medan jihad. Diantaranya,

وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهَادَةٌ

”Wanita yang mati dalam keadaan jum’in, termasuk mati syahid.” (HR. Ibnu Majah 2803, dan dishahihkan al-Albani).

Diantara makna ’mati dalam keadaan jum’in’ mati dalam keadaan masih gadis. Sebagaimana keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar (w. 852 H) dalam Fathul Bari (6/43).

Ibnu Hazm (w. 456 H) dalam kitabnya al-Muhalla menegaskan bahwa menikah hukumnya wajib bagi para pemuda. Akan tetapi beliau mengecualikan kewajiban itu bagi wanita. beliau menegaskan bahwa wanita tidak wajib menikah. Dua dalil di atas, menjadi alasan beliau untuk mendukung pendapatnya. Setelah membahas hukum nikah bagi pemuda, Beliau menegaskan,

Sedangkan, Kematian tak bisa dihindari, tidak mungkin ada yang bisa lari darinya. Namun seribu sayang, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.

Kata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Aku tidaklah pernah melihat suatu yang yakin kecuali keyakinan akan kematian. Namun sangat disayangkan, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.” (Tafsir Al Qurthubi)


Tak mungkin seorang pun lari dari kematian.

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8).


أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).


وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad).” (QS. Al Anbiya’: 34).

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (27)

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27).

Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan ayat-ayat di atas adalah setiap orang pasti akan merasakan kematian. Tidak ada seseorang yang bisa selamat dari kematian, baik ia berusaha lari darinya ataukah tidak. Karena setiap orang sudah punya ajal yang pasti.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 163).

Jadilah mukmin yang cerdas …

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259).

Hanya Allah yang memberi taufik agar kelak kita meninggal seperti wafatnya para ulama. Tidak ada yang telah membuat usia para sahabat dan para ulama sekaliber Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad r.a. seolah terus memanjang hingga akhir zaman, kecuali dakwah yang mereka lakukan. Tidak ada sesuatu yang telah membuat lisan orang-orang mukmin menyebut dan mendoakan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, dan Khalid bin Walid r.a. atau tokoh-tokoh seperti Shalahuddin Al-Ayyubi, Thariq bin Ziyad, dan Al-Muzhaffar Quthuz selain jihad fii sabilillah. Kehidupan mereka menjadi amat berarti dan berharga karena mereka sigap menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya.

Mari persiapkan kematian kita sebaik mungkin dengan terus berada dalam barisan Dakwah...

Rabu, 15 Juni 2016

Merindukan Jalan Dakwah Itu Mengendalikan Hawa Nafsu

Merindukan Jalan Dakwah Itu Mengendalikan Hawa Nafsu

oleh: Umar Hidayat
Merindukan jalan dakwah. Meyakini sepenuhnya kehidupan seorang muslim haruslah mengendalikan hawa nafsunya agar nafsu al amaratu bissuu tidak mendominasi ketaatannya kepada Allah. Bagaimana pun manusia hidup membutuhkan hawa nafsu, tetapi bukan hawa nafsu yang liar. Bagaikan binatang buas yang kelaparan mencari mangsanya.
Sebenarnya ketaatan kepada Allah dan membiasakan diri dalam amal sholeh, termasuk menciptakan lingkungan dan berteman dengan orang-orang yang sholeh, menjadi leader yang mengendalikan hawa nafsu seseorang.
Merindukan jalan dakwah, tidak menyisakan sedikit pun ruang agar hawa nafsu bebas berkeliaran sekehendak sendiri. Membiarkannya berarti kita sedang mempertuhankan hawa nafsu dan mengukuhkan diri kita menjadi shohibnya syaithan. Inilah rahasianya mengapa setiap Allah menyebutkan ayat tentang keinginan hawa nafsu, maka selalu disandingkan dengan celaan terhadap hawa nafsu dan pelakunya.
Ibnu Abbas r.a. berkata: “Tidaklah Allah menyebut keinginan hawa nafsu di dalam Alquran, kecuali Dia mencelanya.” Ustadz Sayid Quthub dalam Fii Zhilaalil Qur'an menyebutkan: “Pilihan itu hanya ada dua, syariat Allah atau mengikuti keinginan orang-orang jahil. Tidak ada pilihan ketiga, jalan tengah antara syariat yang lurus dan keinginan hawa nafsu yang berubah.
Seseorang yang meninggalkan syariat Allah berarti telah berhukum kepada keinginan nafsunya. Segala sesuatu selain syariat Allah adalah keinginan hawa nafsu yang disukai oleh orang yang jahil.”
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208)
Banyak penyakit hati yang lahir dari rahim hawa nafsu ini, dari yang paling berat hingga yang paling ringan. Dan sekecil apa pun penyakit hati jika di biarkan akan menjadi besar. Memperturutkan hawa nafsu hingga menuhankannya melupakan ketaatan kepada Allah, inilah syirik. Iri, dengki, hazad, riya, ghibah, namimah, sombong, dll.
Dan kita berharap terjauhkan dari segala bentuk keburukan yang ingin menggerogoti kesucian hati ini.

Bila Hati Tak Mampu lagi Dikendali

Bila Hati Tak Mampu lagi Dikendali

oleh: Ummi Rochma Yulika
Ibnu Abbas radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku mengajarkan kalimat kepadamu. Peliharalah Allah niscaya engkau akan mendapatkan-Nya dihadapanmu. Kenalilah Allah di waktu senang, niscaya Allah kan mengenalmu di waktu kesempitan.”
Bersabarlah dalam berdakwah. Berdoalah kala ditimpa musibah. Berdzikirlah meski hidup tak pernah susah. Ambil hikmah dari sebuah kisah. Hingga akhirnya bisa kita jadikan pelajaran kala kita melangkah menapaki dunia. Dunia itu begitu keras, hingga kita pun harus berjuang dan senantiasa berusaha untuk bijak dalam menyikapi segala keadaan.
Dunia tak mungkin kita hindari karena bagaimana pun kaki kita berpijak di atasnya. Berusaha dan terus berusaha menjadi kata kuncinya. Dan segalanya dimulai dari hati.
Bila hati tak bisa lagi untuk berkaca. Bila akal tak kuasa untuk mencerna. Bila kesadaran tak lagi menjelma. Hilanglah semua kebaikan. Musnahlah segala kebenaran. Suburlah segala kenistaan. Tegaklah semua kebatilan. Menanglah tipu daya setan.
Jadikanlah hati sebagai cermin. Hati yang terdalam selalu mampu melihat kebenaran. Orang biasa menyebut dengan istilah hati nurani. Jagalah hati biar dia selalu bersih sehingga mampu tuk kita bercermin. Imam Ghazali mengatakan bahwa qalbu ibarat cermin. Saat seseorang melakukan satu dosa atau maksiat tertutuplah hati dengan satu noktah hitam kan menutupi qalbunya. Dan tak kan lagi digunakan untuk bercermin.
Bila kotoran sudah melekat dan tak sesekali dibersihkan, kotoran itu semakin lama semakin pekat. Bila sudah pekat untuk mengembalikannya sangat sulit. Dan hati bila sudah demikian, bukan hanya dosa kecil dosa besar pun tak lagi terbaca. Bukan sekedar sunnah yang ditinggalkan yang wajib pun tak dikerjakan. Kan hilanglah cermin dalam diri kita hingga kita menjadi seorang pendosa. Jauh dari sifat taqwa. Yang ada hanya sifat tercela. Kelak kan jadi teman iblis penghuni neraka.
Na’udzubillahi min dzalik.

Bertemulah Belahan Jiwa

Bertemulah Belahan Jiwa

Oleh: Rochma Yulika


Sepinya jiwa tanpa teman bicara. Sunyinya hati tanpa ada yang mendampingi. Hidup sendiri tak mengikuti jejak nabi. Hampa jiwa terasa bila sudah sampai masanya. Hanya harap kan bertemu belahan jiwa.
Galau pun kadang terasa menyesakkan dada. Doa dan pinta selalu terpanjat pada yang Maha Kuasa.
Dan akhirnya takdir bicara untuk manusia. Saatnya pun tiba.
Bertemulah ia dengan pasangannya. Dengan akad nikah menjadi awal status barunya. Kini hati yang sepi sendiri ada yang menemani. Terikat janji suci tuk raih ridla Ilahi. Jadilah mereka pasangan suami istri. Membangun keluarga islami hingga akhirnya nanti.
Inilah jalan takdir manusia. Dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa, kemudian berumah tangga hingga akhirnya tiada. Bila sudah lahir ia akan jalani kehidupan.
Mati sebuah kepastian, namun pernikahan hanya sebuah harapan. Inilah manusia yang tak pernah tahu batas usianya.
Bersyukurlah bila Allah sudah menemukan pasangan kita. tinggal bagaimana kita mampu merawatnya.
Kelelahan diri yang tak terkira dalam menjalani kehidupan butuh peristirahatan. Beban hidup yang dijalani, aral melintang yang dihadapi tak sanggup bila hanya ditanggung sendiri. Ia butuh tempat untuk kembali. Dan tempat itulah yang kan mengembalikan energi yang hilang terbawa derasnya arus kehidupan.
Saling mengisi antara mereka hingga tak ada celah goda dunia yang menghampirinya. Inilah pelabuhan dalam kehidupan berkeluarga. Rumah yang nyaman tak harus berharga milyaran. Cukuplah rumah bersih dan nyaman. Yang di dalamnya banyak senyum yang tak lepas dari setiap pandangan. Saling berlomba untuk memperbanyak amalan. Surga dunia mereka dapatkan.
Insya Allah.....